Logo Header Antaranews Kepri

Warga Muhammadiyah Kepri Mulai Puasa Jumat

Kamis, 19 Juli 2012 19:33 WIB
Image Print

Batam (ANTARA Kepri) - Ribuan warga Muhammadiyah Provinsi Kepulauan Riau memulai puasa Ramadhan 1433 Hijriah, Jumat (20/7).

"Kami mulai puasa Jumat, nanti malam mulai Tarawih," kata Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kepulauan Riau Chablullah Wibisono di Batam, Kamis.

Warga Muhammadiyah di Kepri diharapkan ikut meramaikan tarawih di masjid-masjid Muhammadiyah maupun masjid lainnya yang menyelenggarakan shalat tarawih berjamaah.

Menurut dia, ada beberapa masjid yang menyelenggarakan shalat tarawih, di Batam Masjid Sei Harapan, Masjid Hamka Muhammadiyah, Nongsa dan beberapa masjid lainnya. Di Bintan di kauman dan beberapa tempat lain di Natuna, Karimun, Lingga dan Anambas.

PW Muhammadiyah, kata dia, juga telah menyiapkan beberapa penceramah untuk menyampaikan penyejuk, disamping mubaligh yang disiapkan Persatuan Mubaligh Batam.

Penetapan jadwal puasa mulai Jumat, kata dia, berdasarkan hisyab hakiki wujudul hilal.

"Ada tiga kriterianya, di antaranya terjadi himpitan bulan dan matahari sebelum terbenam," kata dia.

Himpitan bulan dan matahari, kata dia, sudah terjadi sekitar pukul 11.25 WIB, Kamis. Namun, karena terjadi saat matahari bersinar maka tidak dapat terlihat jelas.

"Sebenarnya sudah nampak. namun, karena keterbatasan mata memandang, jadi tidak nampak," kata dia.

Ia meminta umat saling menghormati kepercayaan masing-masing terkait jadwal mulai Ramadhan.

"Tetap menghormati dan istiqomah," kata dia.

Sementara itu, dari Jakarta, Nahdlatul Ulama memperkirakan awal Ramadhan atau awal puasa tahun ini jatuh pada Sabtu, 21 Juli.

"NU telah memprediksikan awal Ramadhan, namun bukan berarti NU telah menetapkan tanggal itu. Ini penting disampaikan," kata Ketua Lajnah Falakiyah Pengurus Besar (PB) NU KH A Ghazalie Masroeri.

Prediksi bahwa 1 Ramadhan 1433 Hijriah jatuh pada Sabtu 21 Juli 2012 itu, juga tertuang dalam Almanak PBNU yang diterbitkan Lajnah Falakiyah.

Kiai Ghazalie mengatakan prediksi tersebut diambil berdasarkan perhitungan menggunakan metode ilmu hisab yang paling modern.

"NU menggunakan hisab yang tahkiki, tadzkiki, ashri," kata Ghazalie.

Berdasarkan hisab modern, posisi hilal pada saat dilakukan rukyatul hilal pada Kamis (19/7) mendatang atau 29 Sya'ban 1433 H baru berada pada ketinggian 1 derajat 38 menit di atas ufuk. Maka hilal dinyatakan belum "imkanur rukyat", atau belum bisa dilihat, sehingga tidak mungkin dapat dirukyat.

Menurut Kiai Ghazalie, negara-negara yang tergabung dalam MABIM (Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam) menetapkan 2 derajat sebagai batas minimal visibilitas pengamatan. "Itu pun oleh pakar astronomi masih mau dinaikkan menjadi 4 derajat," katanya.

Secara astronomis, lanjutnya, hilal (bulan sabit) tidak mungkin bisa diamati jika masih berada di bawah batas visibilitas pengamatan. Dengan demikian almanak PBNU menggenapkan bulan Sya'ban menjadi 30 hari berdasarkan kaidah istikmal. (Y011/R010)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026