
Gelombang Perairan Natuna Lima Meter

Tanjungpinang (ANTARA Kepri) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Tanjungpinang, Kepulauan Riau mengatakan tinggi gelombang laut di perairan Natuna yang berbatasan dengan Laut China Selatan di atas lima meter dan membahayakan kapal-kapal kecil terutama bagi nelayan tradisional.
"Gelombang tinggi tersebut membahayakan nelayan, terutama yang menggunakan kapal-kapal kecil untuk melaut," kata Kepala BMKG Tanjungpinang, Hartanto di Tanjungpinang, Sabtu.
Hartanto mengatakan, gelombang tinggi juga berpotensi terjadi di perairan Kepulauan Anambas dan Tambelan dengan ketinggian di atas tiga hingga lima meter. Gelombang tinggi tersebut juga berbahaya bagi para nelayan.
"Perkiraan gelombang tinggi tersebut masih terjadi hingga besok Minggu," kata Hartanto.
Untuk perairan Kabupaten Lingga menurut Hartanto berkisar antara satu sampai dua meter, sedangkan perairan Bintan, Tanjungpinang, Batam dan Karimun berkisar antara 0,5 sampai satu meter.
"Pihak pelayaran harus tetap waspada, karena potensi gelombang tinggi masih bisa terjadi," katanya.
Sementara kecepatan angin menurut Hartanto masih cukup kuat, berkisar antara 15-20 knot atau 30-40 km/jam dan kecepatan angin tersebut masih berkesinambungan hingga berpotensi menciptakan gelombang tinggi.
BMKG Tanjungpinang menurut dia juga meminta pihak penerbangan untuk tetap mewaspadai datangnya hujan lebat sesaat secara tiba-tiba, karena bisa mengganggu pada saat pendaratan dan saat bertolak dari bandara.
"Saat ini wilayah Kepulauan Riau hampir merata diguyur hujan dengan intensitas sedang kurang dari 10 mm/jam, namun juga berpotensi datangnya hujan lebat sesaat yang bisa mengganggu penerbangan," katanya.
Hujan sedang yang melanda sebagian besar wilayah Kepri menurut dia diperkirakan akan berlangsung hingga Minggu.
"Petir juga harus diwaspadai karena sudah beberapa hari tidak hujan, kecenderungan pembentukan awan penyebab petir juga tinggi," ujarnya.
Sementara untuk angin puting beliung, menurut Hartanto potensi terjadinya sudah cukup melemah, namun warga tetap diminta untuk waspada. (ANTARA)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
