
Masyarakat Bintan Manfaatkan Buah Bakau sebagai Makanan

Batam (ANTARA Kepri) - Masyarakat yang bermukim di Desa Basung, Kecamatan Sri Kuala Lobam, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, memanfaatkan buah bakau sebagai bahan pangan alternatif.
Beberapa warga yang ditemui di desa yang berada di Pulau Bintan dan berhampiran dengan kawasan resort Lagoi, Selasa, mengatakan bahwa buah bakau yang mereka manfaatkan adalah dari jenis bakau boros.
"Kami menyebutnya buah boros. Buah ini kami olah dulu baru dapat dimakan sebab jika tidak rasanya pahit dan pepat," ujar Bujal pendiri kelompok tani Ketapang Putih yang bergerak dalam pembibitan bakau.
Buah bakau tersebut berbentuk pipih panjang seukuran jari telunjuk dengan panjang sekitar 10 centimeter. Sebelum dimakan buah tersebut terlebih dahulu dikikis kulit arinya lalu direndam selama dua hari untuk menghilangkan getah buah yang menyebabkan rasa pahit dan pepatnya.
"Lalu direbus dua kali pula. Rebusan pertama airnya dibuang, diganti air baru dan direbus lagi. Setelah itu baru bisa dimakan dan diolah jadi bahan pangan apapun baik sebagai penganti nasi maupun kue- muih," ujar Bujal.
Ia mengakui, memakan buah bakau yang banyak terdapat di kampungnya itu telah lama dilakukan masyarakat.
"Apalagi zaman agresi dan konfrontasi dulu, pasokan makanan terputus dan orang tua-tua kami memanfaatkan buah dari hutan bakau yang banyak terdapat disepanjang pantai di daerah ini untuk bahan pangan. Dulu orang memakan buah boros yang telah direbus dengan parutan kelapa muda tapi sekarang buah bakau ini telah dapat dijadikan beraneka ragam makanan," katanya.
Itu sebabnya, lanjut dia, agar bahan pangan yang kini bernilai ekonomis itu tidak punah dan mudah didapat warga, ia bersama kelompoknya membibitkan tanaman bakau.
"Bakau tidak hanya dimanfaatkan sebagai penyangga pantai, tempat ikan, kepiting, udang dan biota lainnya bertelur dan 'beranak-penak', tapi buahnya juga bernilai ekonomis ada yang bisa dijadikan bahan pangan alternatif seperti bakau boros ada juga buah bakau yang bisa dijadikan minuman segar seperti jenis bakau tumu, buangnya pipih panjang," ujar Bujal.
Ia mengatakan, bakau yang tumbuh disepanjang pantai desanya kini dilestarikan dan itu sebabnya ia membentuk kelompok tani agar tanaman bakau tidak ditebang sembarangan dan jikapun ada yang rusak disisip dengan bibit yang ditanamnya.
Sementara itu, Juliah seorang warga Busung yang membuat dodol buah bakau mengatakan, buah bakau merupakan sumber ekonomi keluarganya.
"Saya membuat dodol boros yakni dodol dari buah bakau. Biasanya dijual ke Lagoi, disanakan banyak turis dan dodol boros sangat diminati," katanya.
Menurut dia, selain membuat dodol, buah bakau juga dijadikan bahan pangan lain dengan terlebih dahulu dijadikan tepung.
"Hanya saja untuk mengolahnya lebih beragam saya kurang tahu, maklum saya hanya tau buat dodol atau makan buah boros rebus dengan kelapa parut seperti orang tua kami dulu," katanya.
Ia mengakui, walau bahan pangan di daerahnya kini telah mudah didapat, namun menyantap buah bakau tetap dilakukan keluarganya dan masyarakat lain di daerahnya. (ANTARA)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
