
KAHMI Tanjungpinang: Isu Kemandirian Aktivis Jarang Dibahas

Tanjungpinang (Antara Kepri) - Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, berpendapat isu kemandirian aktivis jarang dibahas organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan, padahal sangat penting agar tidak mudah diintervensi pihak lain.
"Kemandirian aktivis pada masa kini menjadi isu yang terlupakan, padahal sangat penting dibahas secara rutin untuk menciptakan aktivis yang independen," kata Ketua Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Tanjungpinang Ade Angga, dalam dialog yang digelar Komunitas Bakti Bangsa Kepulauan Riau, Sabtu.
Di hadapan puluhan mahasiswa, Ade mengumpamakan strata sosial mahasiswa pada sebuah piramid. Mahasiswa berada pada strata sosial tertinggi. Masyarakat menginginkan mahasiswa sebagai "agent of control" yang dapat membela kepentingan bangsa.
Kemandirian aktivis mahasiswa merupakan bagian terpenting, yang tidak dapat ditinggalkan dalam memujudkan keinginan masyarakat itu. Kemandirian membentuk aktivis menjadi lebih kritis dan idealis.
"Aktivis yang mandiri akan sulit diintervensi oleh pihak mana pun," kata Ade, yang juga Ketua DPD Partai Golkar Tanjungpinang.
Peluang aktivis mahasiswa untuk hidup mandiri, tanpa berpangku tangan dengan orang tua maupun pihak lainnya cukup besar. Mahasiswa harus mampu memanfaatkan waktu dengan bekerja atau menciptakan peluang kerja, meski hanya usaha kecil-kecilan.
"Kemandirian itu muncul karena kesadaran, bukan paksaan. Mahasiswa harus dapat memanfaatkan waktu di luar jam perkuliahan untuk bekerja," katanya.
Sikap mahasiswa, menurut dia, dipengaruhi orang tua, sekolah sebagai institusi formal, lingkungan dan budaya umum suatu bangsa. Mahasiswa harus dapat mengambil hal-hal yang baik.
"Yang baik kita terima, dan yang buruk kita tolak, meski pengaruh itu datang dari orang tua," ucapnya.
Ade mengungkapkan, kemandirian aktivis harus muncul dari cara berpikir, jangan lemah dan cepat putus asa. Aktivis harus tetap bersemangat dan memiliki orientasi.
Hidup harus dijalani secara bertahap, dan tidak boleh memaksakan diri mengikuti perkembangan zaman.
"Orang yang mandiri memiliki rasa percaya diri dan memiliki orientasi yang baik di masa mendatang, memiliki keberanian ambil risiko. Saat ini, banyak mahasiswa berpikiran pragmatis dan bergaya 'bourjuis'. Sikap ini salah, dan merusak masa depan mahasiswa," ungkapnya.
Ia memuji aktivis Komunitas Komunitas Bakti Bangsa yang mulai membangun usaha, seperti membentuk Lembaga Kursus dan Pelatihan Bakti Bangsa dan memanfaatkan ruangan depan sekretariat untuk berjualan.
"Kalau ingin berorganisasi harus serius agar memperoleh ilmunya. Kalau main-main, lebih baik tidak berorganisasi," ujarnya. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
