
FTZ Bintan Terkendala Lahan dan Listrik

Batam (Antara Kepri) - Bupati Bintan, Ansar Ahmad mengatakan kepemilikan lahan oleh masyarakat dan tidak adanya listrik yang memadai membuat pertumbuhan kawasan perdagangan bebas (free trade zone/FTZ) Bintan tidak secepat di Batam.
"Di Batam lahan dikelola BP Batam, sementara di Bintan masih dimiliki masyarakat. Jadi saat ada investor yang berminat menanamkan modalnya membutuhkan waktu pembebasan lahan lama," kata dia usai menjadi pembicara inti dalam seminar FTZ di kampus Ibnu Sina Batam, Jumat.
Ia mengatakan, idealnya wilayah FTZ memang lahannya dikelola oleh badan khusus sehingga saat ada investor yang hendak menanamkan modal tidak membutuhkan waktu yang lama untuk penyelesaiannya.
"Kami terus berupaya melakukan pembebasan lahan. Agar investor lebih mudah memulai investasi di Bintan. Perizinan lain juga terus kami upayakan lebih cepat," kata dia.
Sementara itu, kondisi kelistrikan di Bintan juga jauh dari ideal tidak seperti yang sudah dibangun di Batam sehingga mampu menopang kebutuhan pasokan industri.
"Sering kali investor mau masuk ke Bintan. Namun setelah mengetahui lahan dan kelistrikan tidak memadai, akhirnya mereka masuk ke Batam atau daerah lain yang dinilai bisa memberikan jaminan kelistrikan," kata Ansar.
'
Akibat kurangnya pasokan listrik, kata dia, Kawasan Industri Lobam yang dibangun bersamaan dengan Kawasan Batamindo di Batam kini semakin sepi.
"Mereka hanya mengandalkan listrik sendiri yang akhirnya membuat biaya operasionalnya tinggi. Akibatnya banyak perusahaan yang memilih henkang ke wilayah lain," kata dia.
Seminar yang dihadiri ratusan mahasiwa dan pelajar se-Kota Batam tersebut diselenggarakan oleh Lembaga Studi Kawasan Perbatasan dan Pengembangan Kepulauan Riau.
Selain Ansar, Kepala LKBN Antara Biro Kepulauan Riau, Evy Ratnawati Syamsir, Sekretaris Komisi II DPR Kepri, Surya Makmur Nasution, Muhammad Ichsan dari Kadin Kepri, Perwakilan dari BP Batam, juga diundang menjadi pembicara.
Kepala LKBN Antara Biro Kepri, Evy mengatakan sebagai lembaga berita nasional, LKBN Antara berupaya terus memberikan pemahaman pada masyarakat dan investor tentang peluang yang terbuka dalam status FTZ melalui pemberitaan.
Direktur Lembaga Studi Kawasan Perbatasan dan Pengembangan Kepulauan Riau, Suprapto mengatakan FTZ harus dipahami sebagai peluang emas warga Batam Bintan Karimun untuk membangkitkan industri kecil menengah.
"Kami berharap, generasi muda mampu menjadi pelaku-pelaku usaha kecil yang akan mampu meningkatkan perekonomian secara nasional," kata dia.(Antara)
Editor: Dedi
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
