Logo Header Antaranews Kepri

Air Sumur Warga Tanjungpinang Mulai Kering

Senin, 10 Februari 2014 08:53 WIB
Image Print

Tanjungpinang (Antara Kepri) - Air sumur milik sebagian warga Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, mulai menyusut, bahkan kering, karena tidak turun hujan sejak sekitar dua pekan terakhir.

"Air sumur di rumah kami sejak seminggu terakhir juga mulai kering. Kami setiap hari harus menunggu sampai subuh baru bisa menyedot air dengan menggunakan pipa, tetapi hanya dapat sedikit," ungkap Dirman, warga Perumahan Indonusa Lestari Tanjungpinang, Senin.

Ia menyebutkan, sebagian tetangganya juga kesulitan mendapatkan air karena sumurnya juga mengering. Beberapa di antaranya terpaksa minta air kepada tetangga yang sumurnya masih menyimpan air.

Bahkan sumur di Masjid Al Husen di dekat perumahan itu yang menjadi satu-satunya sumber air bersih untuk wudlu juga kering.

"Air untuk kebutuhan jamaah di masjid terpaksa beli. Beberapa tetangga juga ada yang terpaksa membeli air," ujarnya.

Hal senada dirasakan warga Perumahan Pondok Akasia Tanjungpinang. Sebagian air sumur warga kering, padahal itu menjadi satu-satunya sumber air bersih.

"Terpaksa beli. Kalau tidak beli, kami terpaksa tidak bisa mandi, cuci pakaian dan buang air," kata salah seorang warga Perumahan Pondok Akasia, Muin.

Ia mengemukakan, warga mengharapkan sumber air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Kepulauan Riau ( Kepri). Sampai sekarang warga belum mendapatkannya, meski sudah mendaftar sejak lama.

"Enak kalau jadi pelanggan PDAM," katanya.

Sementara itu, Direktur PDAM Tirta Kepri Abdul Kholik menyatakan, tidak ada penambahan pelanggan baru sampai saat ini. Kondisi sekarang, akibat tidak terjadi hujan, debit air Sungai Pulai, satu-satunya sumber air bersih untuk sebagian masyarakat Tanjungpinang, berkurang 2 meter.

"Dalam kondisi penuh, debit air Sungai Pulai setinggi 4 meter. Namun sejak satu bulan terakhir debit air berkurang menjadi 2 meter," katanya.

PDAM Tirta Kepri terpaksa mengurangi jatah air bersih yang didistribusikan kepada masyarakat. Dalam kondisi normal, kapasitas produksi dan distribusi air berada pada level 1, namun sekarang terpaksa ke level 3.

"Untuk menjaga kontinuitas distribusi sekarang ada pengurangan kapasitas produksi dan distribusi ke level 3," ujarnya. (Antara)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026