
BMKG Imbau Warga Karimun Berhemat Air

Karimun (Antara Kepri) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geosifika Stasiun Tanjung Balai Karimun, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, mengimbau warga masyarakat menghemat penggunaan air karena kemarau diperkirakan berlangsung hingga April 2014.
"Pada akhir Maret diperkirakan akan turun hujan, tapi tidak terlalu berpengaruh. Prediksi pada awal April baru normal sehingga kami mengimbau masyarakat agar berhemat gunakan air," kata Kepala BMKG Stasiun Tanjung Balai Karimun Abdul Azis di Tanjung Balai Karimun, Kamis.
Abdul Azis mengatakan, kemarau yang sudah berlangsung selama 50 hari telah memicu kekeringan di hampir seluruh wilayah Kabupaten Karimun.
Hujan tidak turun, jelas dia, dikarenakan angin timur laut masih bertiup dengan kencang sehingga awan yang terbentuk di Karimun berpindah ke tempat lain.
Sedangkan kondisi cuaca, kata dia lagi, sangat panas dengan suhu sekitar 32 sampai 33 derajat Celsius dengan kelembaban berkisar 48 hingga 50 persen.
Ia mengatakan, dampak dari cuaca panas berkepanjangan adalah mulai mengeringnya sumur-sumur warga, termasuk penyusutan debit air waduk Sei Bati yang menjadi sumber air bersih Perusda untuk dialirkan kepada para pelanggan.
"Debit air Waduk Sei Bati yang tidak jauh dari kantor kami sudah mulai mengkhawatirkan. Sumur-sumur masyarakat juga sudah banyak yang kering," kata dia.
Yanti, salah seorang warga Orari, Tanjung Balai Karimun mengatakan dirinya terpaksa menumpang di rumah kerabatnya untuk mencuci pakaian karena sumur di rumahnya sudah kering.
"Sudah dua pekan kami numpang cuci baju di rumah saudara karena sumur kami tidak berair," katanya.
Sebagian besar sumur warga di kawasan tersebut, menurut dia sudah kering. Sebagian di antara warga memanfaatkan pasokan dari lori (truk) yang menjual air ke permukiman warga.
"Kalau air untuk minum kami beli di depo air minum isi ulang. Kami tentu berharap agar kemarau segera berakhir," kata dia.
Hal yang sama diungkapkan Fita, warga Sei Lakam yang mengaku juga membeli air dari lori karena sumur di rumahnya sudah kering.
"Kami terpaksa keluar uang lebih banyak untuk beli air," ucapnya.(Antara)
Editor: Dedi
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
