Logo Header Antaranews Kepri

Hujan Perdana Guyur Tanjungpinang

Sabtu, 15 Maret 2014 21:39 WIB
Image Print

Tanjungpinang (Antara Kepri) - Hujan dengan intensitas rendah hingga sedang mengguyur Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, Sabtu subuh, perdana setelah dua bulan lebih daerah tersebut tidak dibasahi air dari langit.

"Hujan itu cukup merata, tapi intensitasnya masih rendah untuk di kawasan perkotaan. Sedangkan mulai di kawasan Senggarang hingga Batu 16 hujan cukup lebat," kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tanjungpinang Hartanto, Sabtu.

Ia menambahkan, hujan tersebut hanya berlangsung sekitar setengah jam. Hujan dengan intensitas kecil hingga sedang diprediksi akan terus terjadi hingga akhir Maret 2014.

Namun hujan tersebut tidak berlangsung lama. Dalam sehari diprediksikan hujan dapat terjadi tiga sampai empat kali.

"Kami prediksi hujan dengan intensitas besar terjadi mulai April 2014. Hujan seperti ini yang diharapkan masyarakat Tanjungpinang sejak dua bulan lalu," ujarnya.

Hartanto mengemukakan, pada bulan ini awan tidak mengandung air yang banyak sehingga tidak memungkinkan terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Hujan dapat terjadi dengan intensitas tinggi saat awan mengandung air yang banyak.

"Pembentukan awan konveksi pada bulan kering sulit terjadi," ucapnya.

Menurut dia, kota itu rawan terjadi krisis air lantaran tidak memiliki kawasan tangkapan air dan hutan.

"Kota ini memiliki kontur tanah yang miring, air hujan sulit diresap. Hal itu dapat menimbulkan krisis air pada saat tidak terjadi hujan, sebab tidak ada kawasan tangkapan air pada saat curah hujan meningkat sehingga persediaan air terbatas," katanya.

Ia mengemukakan, air yang bersumber dari mata air di Tanjungpinang sangat terbatas, karena kota itu tidak memiliki hutan dan kawasan tangkapan air. Air di Tanjungpinang relatif bersumber dari hujan sehingga pada saat bulan kering terjadi krisis air seperti yang terjadi sekarang.

"Kalau kondisi ini tidak segera dibenahi, masyarakat akan kesulitan mendapatkan air bersih," ujarnya.

Ia mengemukakan, Tanjungpinang hanya memiliki satu kawasan tangkapan air yaitu Sungai Pulai. Sementara debit air di Sungai Pulai turun dari 4 meter dalam kondisi normal, dan sekarang hanya tersisa 1,5 meter.

"Dalam sehari kami perkirakan terjadi penurunan debit air setinggi 3 centimeter. Ini akan jadi persoalan jika tidak ada kawasan tangkapan air lainnya," ungkapnya.

Menurut dia, Provinsi Kepri, termasuk Tanjungpinang tidak mengenal musim kemarau dan musim hujan. Dalam setahun, pada saat musim angin utara, hanya sekitar dua bulan tidak terjadi hujan yaitu pada akhir Januari hingga awal Maret.

Pada saat tidak terjadi hujan yang dikenal sebagai bulan kering, kondisi air tidak mencapai 150 mili meter/bulan. Sebaliknya, setelah terjadi perubahan arah angin dari utara ke barat daya kondisi air di atas 150 mili meter/bulan.

"Kondisi ini sama seperti di sebagian wilayah Sumatra Utara, tetapi di wilayah itu memiliki ketersediaan air yang cukup, karena kawasan tangkapan air cukup banyak. Sementara di Tanjungpinang kawasan tangkapan air hanya di Sungai Pulai yang saat ini dalam kondisi kritis," ujarnya.

Hartanto mengimbau Pemerintah Tanjungpinang membuat kawasan yang dapat menampung air hujan sebagai persiapan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Waduk atau kolam yang menampung air hujan dibutuhkan masyarakat pada saat tidak terjadi hujan selama berbulan-bulan.

"Itu salah satu upaya untuk mengantisipasi terjadinya krisis air, selain menyiapkan kawasan hutan resapan air," katanya. (Antara)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026