
Krisis Listrik Tanjungpinang Berlanjut

Kami berharap masyarakat Tanjungpinang menghemat listrik, dengan cara minimal mematikan dua lampu. Karena, jika penghematan itu dilakukan oleh seluruh pelanggan, maka PLN bisa menghemat sebesar 2,5 MW
Tanjungpinang (Antara Kepri) - Krisis listrik di Tanjungpinang berlanjut meski pihak PLN menargetkan listrik kembali normal pada Rabu (16/6) atau menjelang Ramadan 1436 Hijriah.
"Sampai dengan hari ini, PLN Tanjungpinang masih mengalami defisit 5 MW dengan beban puncak 52 MW, sedangkan daya mampu PLN hanya 48 MW," kata Manager Bidang Niaga dan Pelayanan Pelanggan Kanwil PLN Riau-Kepri, Rizal Novianto Gustam, Rabu.
Hal ini menunjukkan pemadaman listrik di area PLN Tanjungpinang masih terus berlanjut.
"Kami berharap masyarakat Tanjungpinang menghemat listrik, dengan cara minimal mematikan dua lampu. Karena, jika penghematan itu dilakukan oleh seluruh pelanggan, maka PLN bisa menghemat sebesar 2,5 MW," paparnya.
Upaya penghematan listrik itu juga, sambungnya, sambil menunggu pemesanan modul untuk mengatur regulator di mesin pembangkit di Tekojo yang berkapasitas daya sebesar 12 MW dan mampu beroperasi 24 jam belum kunjung tiba.
Pasalnya, modul yang dipesan PLN dari Eropa melalui Johor baru akan tiba akhir 20 Juni 2015.
"Jika sesuai rencana, tidak akan ada pemadaman lagi, karena pada 20 Juni 2015 PLN Tanjungpinang akan memperoleh tambahan daya sebesar 9 MW untuk beban puncak malam serta tambahan 3 MW untuk beban puncak siang.
Untuk solusi jangka menengah, pihaknya masih berharap pada interkoneksi Batam-Bintan yang dijadwalkan sampai ke Tanjunguban pada akhir Juli 2015.
Dengan adanya travo 30 mVA pada interkoneksi tersebut, pihaknya akan menarik sekitar 20 MW feeder yang masing-masing disalurkan ke Tanjungpinang 15 MW dan Tanjunguban 5 MW.
"Untuk jangka panjang adalah proses transmisi 150 kV berupa tambahan daya dari Batam sebesar 150 MW yang baru akan dilaksanakan pada akhir 2015," ujarnya. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta : Saud MC
Editor:
Kepulauan Riau
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
