Logo Header Antaranews Kepri

Pangarmabar Bantah Perairan Indonesia Paling Rawan Perompakan

Rabu, 1 Juli 2015 02:55 WIB
Image Print
Bisa jadi itu hanya propaganda agar terkesan perairan Indonesia tidak aman. Karena semua laporan yang masuk ditindaklanjuti namun hasilnya nihil

Batam (Antara Kepri) - Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) Laksamana Muda TNI A Taufiq R membantah pemberitaan media asing yang menyatakan perairan Indonesia paling rawan perompakan.

"Perairan Indonesia termasuk Selat Malaka aman untuk pelayaran. Tidak benar apa yang diberitakan media massa asing yang menyebut Januari-Maret 2015 perairan Indonesia paling rawan perompakan. Selama saya menjabat (sejak Februari 2015 tidak ada kasus perompakan," kata Taufiq, di Batam, Selasa.

Ia mengakui, selama 2015 ada sejumlah laporan terjadinya perompakan di perairan Indonesia, khususnya di wilayah barat, namun semua tidak terbukti.

"Bisa jadi itu hanya propaganda agar terkesan perairan Indonesia tidak aman. Karena semua laporan yang masuk ditindaklanjuti namun hasilnya nihil," kata Taufiq.

Ia mencontohkan, pada 28 Januari 2015 ada laporan perompakan MT APL DENVER di Selat Philips. Namun hasil investigasi ditemukan ketidaksesuaian antara usaha dan resiko yang dihadapi perompak dengan hasil kerugian tiga pasang sepatu kerja.

Laporan berikutnya, perompakan MT Musanah di Tanjug Uban Kepri. Hasil investigasi ditemukan kejanggalan di mana perompak naik kapal, mengikat ABK dan kemudian melepaskan ikatan sebelum turun dari kapal, namun tidak ada kerugian material.

Selanjutnya perompakan MT Danai 6 sebanyak tiga kali pada 26 Maret 2015 di Laut Natuna, pada 28 April 2015 di Perairan Bintan, dan 30 April 2015 di sekitar Pulau Bangka. Namun, hasil investigasi kapal hanya hilang kontak karena kerusakan alat komunikasi.

Terakhir Laporan perompakan TB Kim Hock Tug I di perairan Bintan. Hasil investigasi aksi tersebut bukan perompakan ataupun pencurian, namun transaksi jual beli barang bekas antara pelaku dengan ABK TB Kim Hock Tug I seharga Rp2,5 juta.

"Semua yang dilaporkan ditindaklanjuti. Namun hasilnya tidak sesuai laporan. Kalau kasus kejahatan di perairan berupa pencurian bisa jadi. Namun untuk perampokan, tidak ada sama sekali," kata dia.

Ia mengimbau pengguna laut di Indonesia pada umumnya, teruslah di Selat Malaka bernavigasi dengan rasa aman.

"Kami sudah membentuk unit reaksi cepat (WFQR). Jika ada kejahatan yang mengancam keselamatan silakan melapor. Tim di lapangan akan segera menindaklanjutinya," kata Pangarmabar.

Agar bisa lebih memberikan respon cepat, kata dia, Koarmabar akan menempatkan satu heli di Pulau Batam. (Antara)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026