
Disnaker: 15 Perusahaan Bermasalah Dengan Buruh

Kami berharap iklim kondusif yang kini terbentuk dapat dijaga semua pihak. Para pihak agar bisa menempatkan diri sesuai dengan tugas masing-masing sehingga tidak muncul masalah-masalah baru di perusahaan
Batam (Antara Kepri) - Dinas Tenaga Kerja Kota Batam mencatat hingga pertengahan 2015 mencatat terdapat 15 perusahaan mengalami masalah hubungan kerja dengan buruh yang dipekerjakan dan jumlah itu menurun dibandingkan periode sama 2014 yang mencapai 29 kasus.
"Masalah yang dialami biasanya mengenai kontrak, sistem lembur yang tidak jelas, gaji tidak lancar, PHK, hingga berdampak pada aksi mogok kerja dan unjukrasa. Total ada 15 perusahaan bermasalah dengan buruh," kata Kabid Hubungan industri Disnaker Batam, Sri Yanto di Batam, Selasa.
Dari 14 kasus yang terjadi pada perusahaan di Batam tersebut, kata dia, 12 perusahaan menggelar aksi mogok dengan koordinasi serikat pekerja. Sementara tiga lainnya tanpa dikoordinir oleh serikat pekerja.
"Yang tiga itu spontan oleh para buruh. Jadi tidak dikoordinasi oleh serikat buruh seperti 12 kasus lainnya," kata dia.
Ia berharap, tren dunia industri yang cenderung positif tersebut tetap bisa terjaga hingga akhir tahun.
"Kami berharap iklim kondusif yang kini terbentuk dapat dijaga semua pihak. Para pihak agar bisa menempatkan diri sesuai dengan tugas masing-masing sehingga tidak muncul masalah-masalah baru di perusahaan," kata Tri.
Hingga pertengahan 2015, kata dia, juga tercatat sejumlah perusahaan besar melakukan pengurangan karyawan sebagai dampak dari kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya membaik.
Dari lima perusahaan tersebut, tiga berasal dari sektor galangan kapal, satu elektronik dan satu bidang jasa.
"Masalahnya memang karena kondisi global yang membuat perusahaan pailit. Dari pengurangan itu tercatat sampai bulan juni ada 1.401 orang di PHK," kata dia.
Menurutnya, dari 2013 hingga pertengahan 2015 terdapat sebanyak 13.557 orang karyawan perusahaan di PHK baik karena perusahaan tutup atau pengurangan pekerja.
"Atas kondisi ini, sudah saatnya seluruh pemangku kepentingan, instansi, lembala pemerintah dan swasta mengambil langkah-langkah strategis agar kondisi ini tidak berdampak negatif bagi investasi di Batam," kata Tri. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta : Larno
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
