Logo Header Antaranews Kepri

Tanjungpinang Berpotensi Swasembada Pangan

Selasa, 19 Januari 2016 20:40 WIB
Image Print
Adanya lahan hijau sangon seluas 1 hektar yang di kelilingi lahan tandus eks bouksit tersebut, membuktikan bahwa peluang Tanjungpinang menjadi daerah penghasil semakin besar

Tanjungpinang (Antara Kepri) - Tanjungpinang yang selama ini dikenal bukan sebagai daerah penghasil dan tidak memiliki komoditas asli daerah di sektor perkebunan, sebenarnya berpotensi menyangkal dua opsi tersebut, bahkan Ibukota Kepri berpotensi menjadi daerah swasembada pangan.

Hal ini dibuktikan dengan beragam kegiatan bercocok tanam yang dilakukan Ady Indra Pawenari di eks bouksit Kota Tanjungpinang yang dominan berkarakter tandus.

Membuktikan bahwa Kota Tanjungpinang mampu menjadi daerah penghasil, salah satu kegiatan bercocok tanam yang dilakukan Ady adalah menanam biji pohon sengon di lahan pinjam pakai eks bouksit seluas 1 hektar persegi di Dompak.

"Biji sengon ini saya tanam pada November 2014 lalu, dan lihatlah hasilnya tanaman ini bisa tumbuh subur meskipun tidak diurus," kata Ady Indra Pawenari, Senin.

Adanya lahan hijau sangon seluas 1 hektar yang di kelilingi lahan tandus eks bouksit tersebut, membuktikan bahwa peluang Tanjungpinang menjadi daerah penghasil semakin besar.

Di sisi lain, Ady yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (Aiski), mengatakan bahwa buah tin yang berasal dari Timur Tengah juga mampu tumbuh di Ibukota Provinsi Kepri. Buktinya, keberadaan tanaman yang dituliskan di dalam Alquran tersebut juga tumbuh di halaman kantor Gapensi Tanjungpinang Dompak.

"Semua tanaman pangan, pohon, bahkan tanaman buah tin juga bisa tumbuh di Kota Tanjungpinang, dengan menggunakan media tanam coco peat," ujarnya pada Antara.

Menurutnya, tidak ada asalan lagi bagi pemerintah daerah mengeluhkan kendala anggaran atau kondisi geografis untuk mampu menjadi daerah penghasil atau memiliki komoditas asli daerah.

Sebab, perihal tersebut terbantahkan dengan teknologi coco peat yang digunakan Ady dalam setiap kegiatan bertanamnya.

Menurut peraih Pahlawan Untuk Indonesia Bidang Inovasi Teknologi 2015 dari MNC Group, keberhasilan coco peat sudah terbukti juga di lahan eks batu bara di Kalimantan, eks nikel di Sulawesi, termasuk eks bouksit di Kota Tanjungpinang Kepri yang terkenal sulit untuk aktivitas bercocok tanam dan sulit air.

"Dengan menggunakan coco peat, lahan yang dulu tidak produktif, berubah menjadi lahan produktif," ujar Ady.

Meskipun berasal dari sabut kelapa, namun coco peat yang dijual seharga Rp20.000 dan Rp35.000 per karung itu menembus ekspor pasaran Eropa seperti, Jerman, Belanda, dan Itali. Dilanjutkan dengan pasaran benua Asia seperti Jepang, Korea, dan Cina, sampai masuk ke Benua Amerika yaitu di Canada melalui pelabuhan ekspor Tanjung Priok.

Anehnya, teknologi coco peat yang sudah booming di skala internasional, nasional, dan memiliki kantor merket di Kota Tanjungpinang, tidak mendapat tempat di hati Pemko Tanjungpinang untuk menjadikan Ibukota Kepri ini sebagai daerah penghasil.

Terbukti, sampai saat ini Tanjungpinang masih sebagai daerah bukan penghasil dan tidak memiliki komoditas asli daerah yang bisa dibanggakan meningkatkan perekonomian daerah.

"Sebetulnya tak perlu ditawarkan lagi, karena Pemko Tanjungpinang sudah tau tentang coco peat yang kami gunakan ini," tegasnya. (Antara)

Editor: Evy R. Syamsir



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026