
Pemkab Bintan prioritaskan pencegahan karhutla

Bintan (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau (Kepri) memprioritaskan pencegahan sekaligus penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul prediksi BMKG bahwa musim kemarau akan berlanjut hingga September 2026.
"Laporan BKMG terkait musim kemarau ini harus menjadi atensi seluruh pihak untuk merumuskan langkah pencegahan dan penanganan karhutla," kata Bupati Bintan Roby Kurniawan usai mengikuti Apel Kesiapsiagaan Pencegahan dan Penanggulangan Karhutla di Halamaman Mapolres Bintan, Jumat.
Bupati juga menyoroti terkait maraknya dugaan pembakaran lahan yang disengaja pada musim kemarau di wilayah Bintan. Ia meminta seluruh aparat maupun masyarakat untuk sama-sama menjadi pengawas potensi karhutla di wilayahnya masing-masing.
Menurutnya, Bintan memiliki bentang wilayah luas berkaitan dengan hutan dan lahan serta potensi munculnya titik api di tengah kemarau yang berkepanjangan.
"Letak geografis juga memungkinkan Bintan memiliki beberapa risiko bencana seperti tanah longsor, banjir, cuaca ekstrem, gelombang tinggi, abrasi, kebakaran hutan dan lahan hingga kekeringan yang bisa terjadi kapan saja tanpa bisa diprediksi secara pasti," ujarnya.
Roby turut menyampaikan penanggulangan bencana karhutla saat ini mengalami perubahan paradigma baru, yakni dari bersifat responsif menjadi preventif (pencegahan). Kemudian dari bersifat sektoral menjadi multi sektoral atau melibatkan semua komponen.
"Selanjutnya dari inisiatif pemerintah, menjadi tanggung jawab bersama TNI-Polri, masyarakat dan dunia usaha," kata dia.
Sementara, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bintan mencatat 67 kejadian karhutla telah melanda wilayah itu selama periode Juli hingga Agustus 2026, dengan luas lahan terdampak mencapai 50 hektare.
Sebaran karhutla terjadi di Kecamatan Toapaya, Gunung Kijang, Bintan Utara, Bintan Timur dan Kuantan.
"Bintan Timur paling banyak terjadi karhutla," kata Ramlah.
Ia menyebut penanganan karhutla di Bintan sejauh ini berjalan dengan baik berkat sinergi bersama unsur TNI, Polri serta pihak terkait lainnya.
BPBD Bintan terus memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat guna mencegah karhutla. Warga diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar, khususnya di tengah kondisi cuaca panas dan kering.
Ramlah menambahkan, faktor kelalaian manusia diduga turut memicu terjadinya karhutla di Bintan, selain kondisi alam yang kering dan panas.
"Maka itu, kita imbau jangan membakar lahan sembarangan karena ada konsekuensi hukum bagi yang secara sengaja membakar lahan di tengah cuaca ekstrem," kata Ramlah menegaskan.
Pewarta : OGN
Editor:
Ogen
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
