
Musim Utara, Warga Beralih ‘Macok’ Barang Antik
Jumat, 19 Februari 2016 13:32 WIB

Wilayah yang dipacok biasanya tidak jauh dari kawasan pemukiman warga atau berjarak tidak jauh dari bibir pantai
Natuna (Antara Kepri) - Setiap musim utara tiba wilayah sekitar Desa Tanjung Kecamatan Bunguran Timur Laut selalu diramaikan dengan aktivitas warga yang melakukan macokK atau mencari barang antik.
Aktivitas ini tidak hanya dilakukan oleh warga setempat, tetapi juga warga dari kecamatan tetangga, seperti Kecamatan Bunguran Timur.
Aktivitas ini dilakukan dengan menggunakan sebilah besi panjang yang pada bagian pegangannya dipasang kayu untuk memegang. Dalam melakukan pencarian barang antik ini biasanya dilakukan secara berombongan atau terdiri atas 3 orang bahkan lebih.
Wilayah yang dipacok biasanya tidak jauh dari kawasan pemukiman warga atau berjarak paling jauh 500 meter dari bibir pantai. Oki salah seorang pemuda setempat yang dijumpai saat tengah melakukan macok bersama rekan-rekannya mengaku aktivitas tersebut dilakukan karena pada musim utara mereka tidak bisa turun melaut, sebab gelombang tinggi, sehingga waktu luang mereka isi dengan mencari barang antik yang terpendam didalam tanah.
Kalau dapatkan lumayan, bisa dijual, tapi kami tidak langsung jual, kami simpan dulu, ujar Oki ,Jumat.
Sebelum memacok, mereka harus terlebih dahulu meminta izin kepada pemilik tanah. Selain itu, hasil dari memacok harus dibagi dua dengan pemilik tanah.
Oki mengaku tidak setiap memacok mendapatkan hasil, terkadang mereka harus pulang dengan tangan kosong. Namun tidak jarang bila sedang beruntung mereka bisa mendapatkan keramik antik.
Pernah dapat mangkok antik, bahkan cangkir. Kalau jumpa tengkorak sih belum pernah, katanya.
Dari catatatan sejarah arkeolog Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang pernah melakukan penelitian Wilayah Desa Tanjung, pada masa jalur sutra wilayah Pulau Bunguran, merupakan sebuah Bandar persinggahan saudagar dari Cina yang hendak berlayar ke bumi Sriwijaya (Sumatra).
Dalam perjalanannya mereka singgah beberapa lama untuk membeli rempah-rempah dan bahan bakar.
Banyak saudagar yang akhirnya tinggal di Natuna, dan Tanjung menjadi Pusat Perniagaan serta Bandar besar pada masa itu. Para saudagar yang meninggal di Desa tanjung, kebanyakan dimakamkan di daerah pesisir, makanya banyak ditemukan barang antik pecah belah dikawasan Desa Tanjung. (Antara)
Editor: Evy R. Syamsir
Pewarta : Lia Rais
Editor:
Kepulauan Riau
COPYRIGHT © ANTARA 2026
