Bandara Letung Buka Isolasi Perbatasan

id Bandara Letung Buka Isolasi Perbatasan

Kalau di bandara lain, mungkin dibangun dulu bandara, tapi gak tau kapan akan ada pesawat. Beda dengan Letung, pesawat sudah siap
Tanjungpinang (Antara Kepri - Pengoperasian bandara Letung yang ditargetkan terlaksana pada 2016 ini merupakan satu momentum membuka kerangkeng keterisoliran masyarakat daerah perbatasan, khususnya di Utara Provinsi Kepulauan Riau sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan negara di kawasan Laut Cina Selatan.

Bandara yang dibangun dengan sumber dana sharing APBD Kabupaten Anambas dan Provinsi Kepri, bersama APBN sejak 2013 silam, diharapkan membebaskan masyarakat dari terisolasi karena letak geografis yang jauh serta faktor alam yang keras.

Sebagaimana yang disampaikan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Bandara Letung 2014-2015 Ariadi Widiawan, bahwasanya Bandara Letung merupakan bandara unggulan dari Kementerian Perhubungan RI.

Menurut  pria kelahiran Jakarta 19 Juni 1981 ini, kronologis pembangunan bandara Letung sudah dimulai melalui sumber dana untuk sisi darat dari APBD Kabupaten Anambas dan Provinsi Kepri pada 2013, dan sisi udara dengan anggaran APBN yang dimulai pada 2014.

"Di 2014, pengerjaan awal bandara Letung mendapat sumber dana dari APBN sekitar Rp 33 miliar yang  digunakan untuk persiapan lahan bandara sejauh 660 meter X 180 meter," kata Ariadi.

Di tahun berikutnya, Bandara Letung kembali mendapatkan sumber biaya dari APBN sekitar Rp 93 miliar untuk melanjutkan pengerjaan landasan 900 meter X 30 meter serta telah siap diaspal sampai 1.200 meter.

"Di 2016 ini, Pusat kucurkan APBN sekitar Rp 73 miliar untuk perpanjang landasan. Insyaallah, rampungnya bandara Letung tahun ini memiliki panjang landasan 1.500 meter X 30 meter lengkap dengan Avron dan taxi way," ujar alumni Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) 2002.

Mengejar target operasional, bandara Letung harus melewati beberapa tahapan. Mulai dari verifikasi teknis fasilitas sisi darat dan udara. Lalu verifikasi SDM bertaraf Internasional di bandara, seperti Avsec, PKPPK, navigasi, air traffic control dan lain sebagainya.

"Saya sendiri juga akan melakukan verifikasi personil dan keamanan penerbangan, apakah sudah layak atau belum," tegas suami dari Linda Djafar ini.

Menurut Ariadi, pihaknya juga sudah memiliki anggaran untuk menyiapkan pesawat perintis Casa 212  Tanjungpinang - Letung.

"Kalau di bandara lain, mungkin dibangun dulu bandara, tapi gak tau kapan akan ada pesawat. Beda dengan Letung, pesawat sudah siap. Itu karena permintaan pak menteri. Bahwa tidak hanya membangun, tapi juga mengoperasionalkan bandara, sehingga tidak percuma bandara itu dibangun," ujar penghobi traveling dan gym tersebut.

Dan seandainya bandara Letung sudah memiliki panjang landasan 1.500meter, maka ATR 72 yang biasa ke Matak seperti Wings, Trans, dan Garuda, bisa landing di bandara Letung.

Sebagai program unggulan Kementerian  Perhubungan, Menteri Jonan berharap     bandara Letung dapat menconnectkan tranportasi khusus untuk daerah terluar.

"Ditambah lagi, kondisi pertahanan keamanan di Laut Cina Selatan kini.  Sehingga menteri punya keinginan, kemungkinan jika ada lahan bandara Letung akan diperpanjang jadi 2000 atau 2500 supaya bisa masuk boeing, sehingga terconnect langsung Jakarta - Letung," ucapnya.

Untuk bandara di Tambelan Kabupaten Bintan, pengerjaan dilakukan bersamaan dengan bandara Letung, yaitu pada 2014. Hanya saja, ketika sharing dana, Pemkab Bintan mengalami defisit anggaran, sehingga sumber dana penuh berasal dari APBN meliputi pembangunan sisi darat dan udara.

"Di 2014, APBN yang dikucurkan ke bandara Tambelan sekitar Rp 18 miliar, untuk pemantapan lahan sekitar 400 meter X 150 meter," kata Ariadi.

Di 2015, Tambelan kembali memperoleh kucuran APBN sekitar Rp 77 milyar untuk melanjutkan pengerjaan  persiapan lahan sampai pada 1.200 meter. Kemudian di 2016, sumber dana APBN sekitar Rp 25 miliar akan diguanakan untuk pengaspalan.

"Posisi bandara Tambelan ini lebih sulit jika dibandingkan dengan bandara Letung. Karena, kami harus memotong gunung dan melakukan reklamasi laut, karena sisi darat bereda di laut," ucapnya.

Menurut Ariadi, pihaknya masih perlu melakukan kerjasama dengan pemda, karena di sisi darat bandara akan dibangun, sampai pada fasilitas gedung, dan bagunan lainnya. Dengan target rampung di 2019.

Untuk urusan tranportasi,  akan di hubungkan dengan KPA perintis di Dabo yang sekarang sudah melakukan connectifiti tranportasi udara Dabo-Jambi, Dabo-Pangalpinang, dan Dabo-Pekanbaru. 
Tidak menutup kemungkinan, pihaknya akan menghubungan Natuna maupun Anambas dan Tambelan.

"Pengoperasian pesawat akan kami tenderkan, selama ini ada Susi Air air yg melakukan operasionalnya, tapi tetap disubsidi. Sementara untuk oengelola bandara langsung berada di bawah Kementerian Perhubungan," ujarnya.

Dalam menjalankan komitmennya, Ariadi mengaku banyak rintangan yang dihadapi, seperti faktor alam yang membuat mobilisasi alat dan bahan lambat. Serta, faktor jarak yang memakan waktu sepekan bahkan sebulan untuk mendatangkan sperpark, bila alat pengerjaan mengalami kerusakan.

"Tapi sudah kami antisipasi, sehingga 2014 sampai 2015, penyelesaian pembangunan tidak meleset dari perencanaan," ucapnya.

Sementara, support masyarakat tempatan justru memberikan semangat baru dalam pengerjaan proyek. 

"Alhamdulillah tak ada kendala, dari mulai dukungan bupati, masyarakat Letung dan Tambelan serta rekan pers yang mendukung baik pengerjaan bandara, sehingga proses pembangunan cepat," ujarnya.

Namun, belum sempat bandara tersebut rampung, Ariadi mengaku merasa kehilangan sosok pejuang yang turut mensupport pembangunan bandara Letung mulai dari awal sampai 2016 ini, ia yang di maksud adalah Sekretaris Komisi III DPRD Kepri, alm Sofyan Samsir.

"Saya mewakili Kementerian Perhubungan, turut berduka cinta dan merasa kehilangan. Karena Pak Sofyan adalah salah satu sosok yang memperjuangkan bandara Letung, dan ia selalu mensuport sehingga bandara Letung tepat pada waktunya. Semoga bandara Letung selesai dan ada aktivitas landing, itu lah amal, dan hadiah dari beliau," tutur Ariadi. (Antara)

Editor: Evy R. Syamsir
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar