Logo Header Antaranews Kepri

Hasil Tangkapan Nelayan Karimun Merosot

Rabu, 9 November 2016 02:05 WIB
Image Print
Itu kalau kami masih bisa ke laut, kalau tidak tentu sama sekali tidak ada

Karimun (Antara Kepri) - Hasil tangkapan nelayan tradisional di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau disebabkan cuaca buruk yang melanda perairan setempat sejak beberapa pekan terakhir terakhir.

"Kami mengurangi aktivitas menangkap ikan, bahkan sama sekali tidak ke laut kalau cuaca sedang buruk. Akibatnya, hasil tangkapan menurun drastis," kata Ahmad, nelayan Tanjung Balai Karimun, Selasa.

Ahmad menuturkan, jika biasanya ikan yang diperoleh dalam satu hari, bisa mencapai dua sampai tiga kilogram ikan, maka dalam dua pekan terakhir merosot tajam, sekitar 1 kilogram bahkan kurang dari jumlah tersebut.

"Itu kalau kami masih bisa ke laut, kalau tidak tentu sama sekali tidak ada," ucapnya lagi.

Dia menuturkan, saat ini memasuki musim angin utara, ditambah kondisi cuaca yang memasuki musim hujan sejak bulan lalu. Kondisi tersebut memaksa dirinya untuk mengurangi aktivitas menangkap ikan.

"Kapal saya hanya pompong (sejenis perahu bermesin tempel) kecil. Tidak mungkin sanggup menghadapi angin kencang disertai ombak besar dan hujan," katanya.

Nelayan Pelambung Desa Pongkar, Pak Cik mengaku penghasilannya menurun drastis dalam beberapa pekan terakhir, disebabkan berkurangnya aktivitas menangkap ikan selama musim hujan.

Pak Cik mengaku menangkap ikan di perairan sekitar Pulau Takong Hiu, sebuah pulau terluar yang berhadapan dengan Selat Malaka yang dikenal bergelombang tinggi.

Jika selama musim hujan, gelombang di perairan sekitar pulau tersebut, menurut dia, sangat tidak mungkin dilayari kapal pompong nelayan tradisional.

"Kalau kondisinya demikian, kami memilih menangkap ikan agar ke pinggir pantai, atau di dekat pulau sehingga kami bisa terhindar dari ombak besar dan angin kencang," tuturnya.

Menurut Pak Cik, sebagian besar kelompok nelayan tradisional di daerah Pelambung, lebih banyak berdiam di rumah saat cuaca mendung karena sering berubah mendadak menjadi hujan petir disertai angin kencang.

"Contohnya sepanjang hari kemarin, mendung lalu hujan disertai petir dan angin kencang. Kami sama sekali tidak ke laut sejak tadi pagi," kata dia yang juga ketua salah satu kelompok nelayan tersebut.

Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Tanjung Balai Karimun, meminta nelayan terutama nelayan tradisional mewaspadai tingginya curah hujan yang disertai petir dan angin kencang.

"Nelayan harus waspada, cuaca di laut tidak menentu, cenderung hujan petir disertai angin kencang yang memicu gelombang tinggi," ucap petugas BMKG Stasiun Tanjung Balai Karimun Pande Parwata.

Kondisi cuaca tersebut, menurut dia, dipicu fenomena alam yang disebut La Nina yang memicu curah hujan tinggi dan angin kencang.

Fenomena La Nina diprakirakan terjadi sampai awal tahun 2017, merupakan gejala alam yang menimbulkan dinginnya suhu permukaan laut di Pasifik Tengah dan Timur.

Hujan bisa turun kapan saja, bisa pagi atau malam hari. Fenomena La Nina merupakan salah satu pemicu musim hujan yang tahun ini lebih lama dibandingkan kemarau," kata dia. (Antara)

Editor: Yuniardi



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026