
Atap Underpass Pelita Retak

Bangunan beton biasanya deformasi dulu baru ambruk dan kalau lihat bentuk underpass yang tidak melendung atau bengkok-bengkok, masih aman
Batam (Antara Kepri) - Bagian atap underpass yang menghubungkan ruas Jalan Laksamana Bintan Sei Panas-Pelita Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau mengalami retak di beberapa bagian dan membuat sejumlah pengendara takut untuk melintas di bawahnya.
Direktur Promosi dan Humas Badan Pengusahaan (BP) Batam Purnomo Andiantono, di Batam, Sabtu, mengatakan ruas jalan yang dikenal dengan terowongan pelita itu dibangun pada 2006 lalu dan selesai 2007. Namun pada 2007 sudah mengalami retak rambut tidak beraturan tetapi tidak membahayakan.
Ia menjelaskan hasil survei pada 2007 didapatkan kesimpulan dari hasil pengamatan, pengukuran dan analisa kerusakan atau retak-retak yang terjadi di pelat atas jembatan underpass disebabkan oleh faktor plastic Shrinkage yang umumnya sekitar satu persen dari volume beton dan belum termasuk faktor kehilangan air akibat penguapan.
"Plastic Shrinkage terjadi saat pengecoran telah berhenti," katanya. Setelah itu katanya dikeluarkan rekomendasi untuk menanggulanginya yaitu dilakukan grouting epoxy resin pada semua bagian yang retak. Hal ini lanjutnya juga untuk menghindari korosi yang disebabkan tereksposenya tulangan ke udara luar.
Retak rambut kata pria yang akrab disapa Andi itu, hanya terjadi pada permukaan saja dan tidak merusak struktur terowongan sehingga tidak membahayakan kendaraan yang melintas di bawahnya.
"Bangunan beton biasanya deformasi dulu baru ambruk dan kalau lihat bentuk underpass yang tidak melendung atau bengkok-bengkok, masih aman," katanya.
Namun pihaknya juga akan meminta bantuan dari ahli dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) guna mengecek keseluruhan bagian underpass dengan menggunakan alat khusus.
Saat ini katanya tim dari BP Batam juga sudah turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan awal. Andi juga mengatakan saat usia bangunan masih baru retak-retak rambut sudah bisa dideteksi.
"Sekali pun retak rambut tidak membahayakan, namun cukup mengganggu pemandangan," ujarnya.
Andi mengatakan retak-retak kecil itu disebabkan pengaruh lingkungan yaitu perubahan suhu panas dan dingin yang drastis. (baca juga: BP Batam Tampik Pembangunan "Fly Over" Terhambat) (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta : Messa Haris
Editor:
Kepulauan Riau
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
