BUMN Hadir - Liza perkenalkan teknik membuat jaring melalui SMN

id liza puspita sari,BUMN Hadir untuk Negeri,siswa mengenal nusantara,SMN

Liza Puspita Sari mempraktikkan cara merajut jaring ikan. Pelajar kelas XI SMA Negeri 6 Tanjungpinang sekaligus peserta Siswa Mengenal Nusantara (SMN) 2018 memiliki memiliki keahlian membuat jaring ikan. (Antaranews Kepri/Saud MC Kashmir)

Saya ingin memperkenalkan kepada teman-teman di daerah tujuan nanti tentang budaya Tanjungpinang, seperti Gurindam 12, pantun, dan kuliner khas, misalnya lakse, otak-otak dan masih banyak lagi
Tanjungpinang (Antaranews Kepri) - Program Siswa Mengenal Nusantara (SMN) 2018 adalah ajang yang ternyata sudah ditunggu-tunggu oleh pelajar di seluruh Indonesia, tidak terkecuali pelajar XI IPA di SMA Negeri 6 Tanjungpinang, Liza Puspita Sari.

Menurut remaja putri kelahiran Kampung Bugis, 25 Oktober 2000 tersebut, SMN yang diselenggarakan di Kepri oleh PT Pelindo 1 Tanjungpinang, LKBN Antara Biro Kepri, dan Persero Batam adalah kesempatan bagi pelajar Kota Tanjungpinang untuk bertukar budaya daerah, bahkan menambah ilmu, khususnya bagi diri peserta sendiri.

"Saya ingin memperkenalkan kepada teman-teman di daerah tujuan nanti tentang budaya Tanjungpinang, seperti Gurindam 12, pantun, dan kuliner khas, misalnya lakse, otak-otak dan masih banyak lagi," katanya.

Bagi dirinya, "Budaya menunjukkan bangsa" sehingga ia mengaku sangat bersemangat mewakili Kota Tanjungpinang untuk mempromosikannya melalui rangkaian program BUMN Hadir Untuk Negeri tersebut.

Akan tetapi, anak terakhir dari 4 bersaudara ini justru memiliki kemampuan yang tidak biasa ditekuni oleh seorang wanita, yaitu membuat jaring ikan.

Siapa sangka, Liza yang dikenal berkacamata yang doyan mengikuti kegiatan Pramuka, Osis, membaca, membuat cerpen, berdebat kritis, dan memasak ini, ternyata memiliki kemampuan membuat jaring ikan.

Kisah itu bermula di rumahnya yang beralamat  di RT 4 RW 6, Kampung Bugis, Kota Tanjungpinang ini. 

Dibesarkan oleh keluarga nelayan, Liza mengaku mendapatkan pelajaran membuat jaring dari sang ayah, Sulaiman yang kesehariannya bekerja sebagai nelayan bubu ketam.

"Kalau jaring ketamnya rusak, biasa ayah suruh saya yang menjahit, itu saya lakukan sejak di bangku kelas 6 sekolah dasar," tutur putri bungsu pasangan Sulaiman dan Maimun tersebut.

Kata Liza, awalnya ayah yang langsung membimbing dan mengajarkannya mengenai teknik menjahit jaring. Sehingga, setelah sekian lama, Liza mahir bukan hanya menjahit jaring rusak, tapi juga membuat jaring itu sendiri.

"Rajutan mata jaring itu beragam, mulai dari ukuran 2 mata, 4 mata, 6 mata, bahkan 12 mata. Kemudian memperkirakan posisi pelampung dan timah pada jaring, bisa saya lakukan," ujarnya yakin.

Melalui SMN 2018 ini, Liza ingin sekali berbagi ilmu tentang teknik membuat jaring, dan menggabungkan teknik membuat jaring versi nelayan Tanjungpinang dengan versi NTB, sebagai daerah tujuan.

Terkait dengan gempa bumi yang melanda NTB, Liza mengaku orang tua sempat berat hati mengizinkannya pergi. 

Akan tetapi, sebagai seorang anak, Liza memberi keyakinan bahwa bila nanti tiba di NTB, ia ingin sekali membantu korban bencana gempa bumi sebagai bagian dari kemanusian.

"Orang tua pun support, karena dengan SMN ini juga menambah wawasan saya, dan orang tua pun setuju, walaupun tau daerah tujuannya sedang terjadi bencana," tegasnya.

Dalam kesempatan ini, Liza mengucapkan belasungkawa dengan harapan semoga warga NTB bisa menghadapi cobaan ini dengan tabah.

Baca juga: BUMN Hadir - Ferly Aryuda ingin menimba pengalaman lewat SMN

Baca juga: Uster ingin promosikan Anambas lewat SMN 2018
Pewarta :
Editor: Rusdianto Syafruddin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar