Daging dan tumbuhan hasil tegahan dimusnahkan

id balai karantina pertanian tanjungpinang, pengahan pelabuhan, karantina

Balai Karantina Pertanian Kelas II Tanjungpinang memusnahkan 104,18 kilogram barang tegahan hewan dan 45 kilogram tumbuhan asal Singapura, Malaysia dan Tiongkok. (Antara News Kepri/Ogen)

Proses pemusnahan merupakan salah satu langkah dalam menjaga wilayah Kepri, khususnya Indonesia. Agar senantiasa bebas dari penyakit hewan dan tumbuhan
Tanjungpinang (Antaranews Kepri) - Balai Karantina Pertanian Kelas II Tanjungpinang memusnahkan 104,18 kilogram barang tegahan hewan dan 45 kilogram tumbuhan.

Pemusnahan dilakukan dengan cara dibakar, bertempat di Kantor Balai Karantina Pertanian Kelas II Tanjungpinang, Kijang Lama, Kota Tanjungpinang.

"Barang yang dimusnahkan merupakan barang hasil penegahan di Pelabuhan Sri Bintan Pura (SBP) dan Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang pada Agustus 2018," kata Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Tanjungpinang Donny Muksydayan.

Donny melanjutkan, barang hasil tegahan ini terdiri dari komoditi hewan seperti daging sapi, daging babi, ayam, bebek, telur. Sedangkan komoditi tumbuhan diantaranya seperti beras, buah mangga, buah  rambutan, bawang merah, dan sayuran segar. 

Dia katakan, umumnya, barang tegahan yang dimusnahkan itu dipasok dari Singapura, Cina dan Malaysia dan dibawa oleh WNI maupun WNA yang datang ke Tanjungpinang," ujarnya.

"Proses pemusnahan merupakan salah satu langkah dalam menjaga wilayah Kepri, khususnya Indonesia. Agar senantiasa bebas dari penyakit hewan dan tumbuhan," imbuhnya.

Balai Karantina Pertanian Kelas II Tanjungpinang, saat ini konsen terhadap pangan pada penahanan pengiriman benih dari Singapura, Malaysia dan Cina, yang dibawa penumpang ke Jawa melalui Kota Tanjungpinang.

"Jangan dilihat jumlah barangnya, tapi ini ada potensi benih bibit hama yang dibawa masuk ke Indonesia. Jadi kami mohon dukungan dan sinergi dari berbagai pihak untuk memberantas ini," tutupnya. (Antara)
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar