Hutan Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil terbakar

id Giam siak kecil,Karhutla riau,Bbksda riau

Hutan Suaka Margasatwa  Giam Siak Kecil  terbakar

Kebakaran hutan di Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil, Riau, Rabu (16/1/2020). (ANTARA/HO-BNPB)

Pekanbaru (ANTARA) - Sedikitnya 10 hektare kawasan Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil di Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, telah terbakar dalam tiga hari terakhir.

"Kurang lebih (luas) 10 hektare," kata Kepala Bidang Wilayah 2 Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Heru Sutmantoro, di Pekanbaru, Jumat.

Ia menjelaskan kebakaran mulai terdeteksi sejak tanggal 15 Januari. Lokasi titik api berada di kawasan hutan negara yang berstatus Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil, di Bengkalis.

Upaya pemadaman terus dilakukan oleh tim gabungan, katanya. Tim melakukan upaya pemadaman bersama Manggala Agni, TNI-POLRI, dan Masyarakat Perduli Api Desa Bukit Kerikil.



Selain itu, ia mengatakan bantuan juga diberikan oleh perusahaan yang dekat dengan lokasi, yakni PT Arara Abadi dari Sinar Mas Group.

Perusahaan membantu pemadaman dengan helikopter yang menjatuhkan air ( water bombing) dan dua unit alat ekskavator pembuat embung air dan menyekat api.

"Selain itu, pemadaman juga menggunakan lima unit mesin pemadam," katanya.

Menurut dia, kondisi saat ini api masih belum dapat dipadamkan.

"Karena pemadaman yang belum maksimal sebab sumber air belum memadai, selain topografi gambut kering dan semak belukar yang memudahkan api menjalar," katanya.

Diperkirakan areal yang telah terbakar semakin bertambah luas kurang lebih mencapai 10 hektare.

"Rencananya tim akan terus melakukan pemadaman," katanya.

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru menyatakan satelit pada Kamis pukul 16.00 WIB mendeteksi tiga titik panas yang jadi indikasi awal karhutla. Titik panas ada dua di Kabupaten Bengkalis, yakni di daerah Bukit Batu dan Rupat Utara. Sedangkan satu titik lagi ada di Kabupaten Siak, yakni di daerah Sungai Apit.
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar