Pemerintah bayangan Myanmar kutuk junta militer karena ambil peran PM
Senin, 2 Agustus 2021 20:37 WIB
Pemimpin junta militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing saat memimpin parade militer pada Hari Angkatan Bersenjata di Naypyitaw, Myanmar, Maret 2021. (ANTARA/Reuters)
Naypyidaw (ANTARA) - Anggota pemerintah bayangan Myanmar yang dibentuk oleh penentang kudeta mengutuk penguasa militer karena mengambil peran perdana menteri (PM) dalam pemerintahan sementara.
Mereka mengatakan langkah itu dirancang untuk mencoba mendapatkan legitimasi.
Penguasa militer Min Aung Hlaing membuat pengumuman itu dalam pidatonya pada Minggu (1/8), enam bulan setelah tentara merebut kekuasaan dengan menggulingkan pemerintah terpilih yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi.
"Pemerintah Sementara" menggantikan Dewan Administrasi Negara (SAC) yang diketuai oleh Min Aung Hlaing yang telah memimpin Myanmar sejak kudeta.
"Transisi dari dewan militer ke pemerintah sementara adalah cerminan dari fakta bahwa mereka sedang mempersiapkan pertempuran diplomatik internasional, mencoba membuktikan fakta bahwa mereka adalah pemerintah," kata Aung Myo Min, menteri hak asasi manusia di Pemerintah Persatuan Nasional (NUG).
NUG dibentuk pada April lalu oleh berbagai kelompok termasuk anggota partai Suu Kyi dan aktivis pro demokrasi.
"Namun, fakta tidak dapat disangkal bahwa militer tidak dipilih oleh rakyat," kata Aung Myo Min dalam sebuah unggahan di Facebook.
Pemerintah sementara dibentuk "untuk melakukan tugas negara dengan cepat, mudah, dan efektif", kata seorang pembaca berita di televisi negara Myawaddy pada Minggu.
Dalam pidatonya, Min Aung Hlaing mengulangi janjinya untuk menggelar pemilu pada 2023 dan mengatakan pemerintahannya siap untuk bekerja dengan utusan regional di Myanmar.
Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) telah memelopori upaya diplomatik dan para menteri luar negeri ASEAN bertemu pada Senin untuk mencoba menunjuk seorang utusan untuk membantu menghentikan kekerasan dan memajukan dialog untuk mengakhiri krisis di Myanmar.
Kelompok aktivis Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik menuduh pasukan keamanan telah membunuh sedikitnya 940 orang dalam upaya menekan perbedaan pendapat sejak kudeta.
Militer mengatakan jumlah pengunjuk rasa yang tewas jauh lebih rendah dan anggota angkatan bersenjata juga tewas dalam kekerasan, sambil menyebut NUG sebagai kelompok teroris.
Lahpai Maw Htun Aung, wakil menteri listrik dan energi NUG, mengatakan dalam sebuah unggahan di media sosial bahwa setelah enam bulan kekerasan, junta berusaha untuk memenangkan pengakuan dan legitimasi internasional.
"Menempatkan kulit domba pada serigala tidak membuat serigala menjadi kurang serigala," kata dia.
Sumber: Reuters
Mereka mengatakan langkah itu dirancang untuk mencoba mendapatkan legitimasi.
Penguasa militer Min Aung Hlaing membuat pengumuman itu dalam pidatonya pada Minggu (1/8), enam bulan setelah tentara merebut kekuasaan dengan menggulingkan pemerintah terpilih yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi.
"Pemerintah Sementara" menggantikan Dewan Administrasi Negara (SAC) yang diketuai oleh Min Aung Hlaing yang telah memimpin Myanmar sejak kudeta.
"Transisi dari dewan militer ke pemerintah sementara adalah cerminan dari fakta bahwa mereka sedang mempersiapkan pertempuran diplomatik internasional, mencoba membuktikan fakta bahwa mereka adalah pemerintah," kata Aung Myo Min, menteri hak asasi manusia di Pemerintah Persatuan Nasional (NUG).
NUG dibentuk pada April lalu oleh berbagai kelompok termasuk anggota partai Suu Kyi dan aktivis pro demokrasi.
"Namun, fakta tidak dapat disangkal bahwa militer tidak dipilih oleh rakyat," kata Aung Myo Min dalam sebuah unggahan di Facebook.
Pemerintah sementara dibentuk "untuk melakukan tugas negara dengan cepat, mudah, dan efektif", kata seorang pembaca berita di televisi negara Myawaddy pada Minggu.
Dalam pidatonya, Min Aung Hlaing mengulangi janjinya untuk menggelar pemilu pada 2023 dan mengatakan pemerintahannya siap untuk bekerja dengan utusan regional di Myanmar.
Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) telah memelopori upaya diplomatik dan para menteri luar negeri ASEAN bertemu pada Senin untuk mencoba menunjuk seorang utusan untuk membantu menghentikan kekerasan dan memajukan dialog untuk mengakhiri krisis di Myanmar.
Kelompok aktivis Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik menuduh pasukan keamanan telah membunuh sedikitnya 940 orang dalam upaya menekan perbedaan pendapat sejak kudeta.
Militer mengatakan jumlah pengunjuk rasa yang tewas jauh lebih rendah dan anggota angkatan bersenjata juga tewas dalam kekerasan, sambil menyebut NUG sebagai kelompok teroris.
Lahpai Maw Htun Aung, wakil menteri listrik dan energi NUG, mengatakan dalam sebuah unggahan di media sosial bahwa setelah enam bulan kekerasan, junta berusaha untuk memenangkan pengakuan dan legitimasi internasional.
"Menempatkan kulit domba pada serigala tidak membuat serigala menjadi kurang serigala," kata dia.
Sumber: Reuters
Pewarta : Yashinta Difa Pramudyani
Editor : Evi Ratnawati
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Warga Rohingya menyebrang ke Bangladesh akibat perang junta-pemberontak
06 February 2024 14:04 WIB, 2024
Para Pemimpin ASEAN memberikan peringatan kepada Junta Militer Myanmar
12 November 2022 10:15 WIB, 2022
Indonesia tegaskan ASEAN tak beri pengakuan terhadap junta militer Myanmar
04 August 2021 16:41 WIB, 2021
Terpopuler - Jagat
Lihat Juga
Tren "mudik terbalik" saat Imlek kian populer di kalangan anak muda di China
12 February 2026 12:12 WIB
Komisi Eropa ajukan keberatan ke Meta terkait pembatasan akses AI di WhatsApp
10 February 2026 13:54 WIB
Perdana Menteri Inggris minta maaf atas penunjukan dubes terkait kasus Epstein
06 February 2026 15:53 WIB
Gencatan senjata tahap kedua, 54 jenazah warga Palestina telah tiba di Gaza
05 February 2026 11:16 WIB
Kapolri usulkan Bintang Bhayangkara untuk Meri Hoegeng bentuk penghormatan
04 February 2026 14:22 WIB