Tanjungpinang (ANTARA News) - Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau daerah pemilihan Kabupaten Natuna, Fahmi Fikri mengatakan, warga Natuna bukan ingin bergabung dengan Kalimantan Barat seperti yang diwacanakan Mendagri, tetapi ingin menjadi provinsi sendiri.

"Selama masa reses saya menjaring aspirasi di Natuna, ditambah lagi dengan pernyataan Mendagri Gamawan Fauzi, masyarakat malah berkeinginan Natuna menjadi provinsi," kata Fahmi di Tanjungpinang, Senin.

Fahmi mengatakan, jauh hari sebelum Mendagri mewacanakan Natuna bergabung dengan Kalimantan Barat, masyarakat Natuna terutama mahasiswa telah merancang pembentukan Provinsi Kepulauan Natuna.

"Dalam waktu dekat akan ada musyawarah besar mahasiswa Natuna se-Indonesia membahas perhatian Pemprov Kepri selama 10 tahun terakhir dan juga pernyataan Mendagri," ujar anggota dewan yang diusung Partai Amanat Nasional.

Menurut dia, jika dalam musyawarah tersebut diputuskan perhatian Pemprov Kepri sangat kurang, maka akan ada wacana pembentukan tim untuk pembentukan Provinsi Kepulauan Natuna.

"Alasan utamanya karena Natuna masih jauh tertinggal, sedangkan hasil minyak dan gas buminya melimpah," katanya.

Selain itu, menurut dia jarak dengan ibu kota Kepri di Tanjungpinang juga menjadi alasan.

"Dari Natuna ke Jakarta sama jaraknya dengan pergi ke Tanjungpinang," ujarnya.

Kesenjangan yang dirasakan masyarakat Natuna menurut dia juga menjadi alasan, karena masih ada sekitar 8.000 lebih masyarakat miskin di Natuna dari total 67 ribu lebih penduduknya.

"APBD Natuna memang besar, mencapai Rp1,1 triliun, namun pertumbuhan ekonomi tidak dirasakan sehingga masih ada warga miskin, ditambah lagi sektor pekerjaan di Natuna tidak pernah berkembang hingga saat ini. Warga hanya berebut masuk PNS setiap tahun," katanya.

Transportasi yang menjadi urat nadi perekonomian warga menurut dia juga tidak pernah kunjung selesai sejak 10 tahun terakhir.

"Seharusnya masalah transportasi tidak menjadi kendala lagi ke Natuna, namun kenyataanya sampai saat ini masih menjadi kendala besar," katanya.

Menurut dia, transportasi ke Natuna hanya dilayani Wings Air dari Batam tiga kali sepekan, ke Pontianak dengan pesawat Trigana dua kali sepekan dan kapal Pelni serta perintis 12 hari sekali.

"Bagaimana perekonomian masyarakat bisa berkembang jika tranportasi tidak lancar," kata Fahmi.
  
(ANT-HM/H-KWR/Btm3)