Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pertahanan (Kemhan) memberikan bantuan logistik untuk warga korban perang di Gaza melalui metode air drop atau dijatuhkan dari pesawat angkut Hercules milik TNI AU, Rabu.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan (Letjen) TNI Tri Budi Utomo menjelaskan bantuan yang akan dikirim dari Lanud Halim Perdanakusuma hari ini seberat 800 ton, terdiri dari makanan, obat-obatan hingga pakaian untuk warga di Gaza.

"Semua bantuannya mudah-mudahan bisa untuk dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat yang ada di Gaza ya," kata Tri saat jumpa pers di Lanud Halim Perdanakusuma, Rabu.

Tri menjelaskan pengiriman ini merupakan bagian dari misi perdamaian yang dijalankan Indonesia. Ini juga bukan pengiriman pertama yang dilakukan.

Sebelumnya, TNI telah mengirimkan bantuan logistik dengan metode yang sama ke beberapa titik lokasi di Gaza.

Tri melanjutkan, dalam pengiriman kali ini, TNI akan bekerja sama dengan pihak militer Yordania. Nantinya pihak Yordania akan memberikan informasi lokasi penjatuhan logistik tersebut.

Berdasarkan informasi yang diterima TNI dari pihak Yordania, tercatat ada 10 titik aman di wilayah Gaza yang akan menjadi lokasi dropping bantuan.

"Lokasi sudah dicek dan steril dan tentang keamanannya.Jadi mereka sudah menyiapkan titik-titik air drop-nya dengan baik," kata Tri

Tri pun menanggapi pertanyaan terkait kemungkinan adanya upaya pencegahan yang dialami TNI oleh militer Israel saat mengirim bantuan tersebut.

"Jadi dari tanggal 1 Agustus sampai tanggal 24 Agustus ini Israel sudah membuka khusus untuk bantuan ini. Jadi pihak Israel memberikan luang untuk kita memberikan bantuan," jelas Tri

Dengan adanya bala bantuan ini, Tri berharap warga yang menjadi korban perang di Gaza dapat terbantu untuk tetap bertahan hidup.



Palestina desak wartawan sedunia bersuara demi para jurnalis di Gaza...


Disisi lain, Palestina mendesak jurnalis dan asosiasi kewartawanan sedunia untuk bersuara dan bertindak melindungi wartawan Palestina serta melawan upaya Israel mendelegitimasi kerja para jurnalis.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Palestina pada Selasa menyebut Israel "pembunuh wartawan paling berbahaya" karena 230 jurnalis di Gaza telah menjadi korban kebiadaban mereka.

"Kebijakan kriminal Israel bertujuan membunuh semua saksi mata genosida yang mereka lakukan dan mengubur semua bukti kejahatan mereka," kata Kemlu Palestina di platform X.

Rezim Zionis Israel disebut telah membunuh para jurnalis dengan kejam sebagai balas dendam terhadap pihak-pihak yang menyampaikan kebenaran.

Menurut Palestina, langkah Israel yang sengaja mengincar wartawan juga menunjukkan bahwa upaya pembersihan etnis di Palestina adalah tindakan "jangka panjang dan sistematis."

Palestina mendesak jurnalis di seluruh dunia untuk tidak ikut menyebarkan narasi kebohongan dan propaganda Israel serta menolak upaya dehumanisasi dan delegitimasi jurnalis Palestina.

"Tak ada jurnalis yang boleh terlibat dalam penghasutan dan pembunuhan jurnalis lain," kata Kemlu Palestina.

Palestina juga memuji para wartawan yang teguh menjalankan tugas jurnalistiknya dengan profesionalisme tinggi dan komitmen terhadap kebenaran meski menghadapi situasi yang amat buruk.

"Mereka adalah pahlawan yang seharusnya dihormati, bukan dihina," kata Kemlu Palestina.

Daftar wartawan yang dibunuh Israel semakin panjang setelah empat jurnalis Al Jazeera tewas dalam serangan roket pasukan Israel pada Minggu (10/8), menurut laporan Xinhua.

Keempatnya — jurnalis Anas Al Sharif dan Mohammed Qreiqeh serta juru kamera Ibrahim Zaher dan Mohammed Noufal — tewas setelah Israel menyerang tenda mereka di depan RS Al Shifa di Kota Gaza. Seorang warga Palestina juga tewas dalam serangan itu.


Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kemhan kirim logistik dengan metode "air drop" untuk warga Gaza

Pewarta : Walda Marison
Editor : Nadilla
Copyright © ANTARA 2026