Tanjungpinang (ANTARA) - Kawasan mangrove Sungai Tiram di Desa Penaga, Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), mulai dilirik menjadi kawasan budidaya dan wisata berkelanjutan.
Pecinta mangrove asal Jepang Naoto Akune menawarkan konsep budidaya perikanan berbasis silvofishery, yakni sebuah metode ramah lingkungan yang mengintegrasikan pelestarian mangrove dengan kegiatan perikanan produktif.
"Kawasan mangrove ini potensial dikembangkan menjadi model budidaya berkelanjutan yang mampu menjaga ekosistem sekaligus menghasilkan nilai ekonomi dengan sistem silvofishery,” kata Akune di Bintan, Selasa.
Pecinta mangrove Akune hadir ke Bintan dalam kegiatan penanaman mangrove bersama Komunitas Jurnalis Kepri (KJK) dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026.
Ia menyampaikan silvofishery merupakan metode tradisional yang telah terbukti efektif di berbagai negara, termasuk Jepang dan beberapa wilayah di Asia Tenggara. Sistem ini menggabungkan tambak perikanan dengan keberadaan hutan mangrove sebagai bagian utama ekosistem.
Dalam konsep yang ditawarkan Akune, sekitar 60 hingga 80 persen area tetap dipertahankan sebagai hutan mangrove, sementara 20 hingga 40 persen lainnya dimanfaatkan sebagai parit atau kolam untuk budidaya ikan, udang, maupun kepiting.
Menurut Akune mangrove berperan sebagai biofilter alami yang mampu menjaga kualitas air, menyediakan pakan alami, serta melindungi kawasan dari abrasi dan kerusakan lingkungan.
"Mangrove ini sangat penting karena berfungsi sebagai penyaring alami, menjaga kualitas air, dan menyediakan nutrisi bagi biota. Dengan sistem ini, kebutuhan pakan tambahan dan obat-obatan bisa ditekan, sehingga budidaya menjadi lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan,” jelasnya.
Baca juga: Gubernur Kepri kecam pelaku pembuang minyak hitam perlu ditindak tegas
Sementara, Ketua Umum KJK Ady Indra Pawennari menilai silvofishery merupakan solusi ideal untuk kawasan mangrove seperti di Sungai Tiram yang memiliki potensi ekologis dan ekonomi sekaligus.
Konsep budidaya seperti ini sudah banyak dikembangkan di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Selain memiliki nilai ekonomi tinggi, sistem itu juga membantu menjaga kelestarian mangrove.
"Sungai Tiram dapat menjadi percontohan pengelolaan mangrove berbasis ekonomi hijau di Kepri, sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat langsung dari upaya pelestarian lingkungan," ujarnya.
Sejalan dengan upaya tersebut, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Kepri juga mulai mengembangkan pendekatan baru dalam pelestarian mangrove melalui program Planting Tourism atau wisata menanam mangrove.
Program ini menggeser paradigma konservasi dari sekadar kegiatan penanaman menjadi bagian dari aktivitas pariwisata berbasis ekologi yang bernilai ekonomi.
Kepala BPDAS Kepri Haris Sofyan Hendriyanto mengatakan program ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Kementerian Kehutanan, Dinas Pariwisata, serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kepri.
“Fokus utamanya adalah mengajak wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga berkontribusi langsung melalui aktivitas menanam mangrove,” ujarnya.
Haris menambahkan saat ini telah terpetakan sedikitnya sembilan titik di Bintan yang menjadi pionir dalam pengembangan wisata menanam mangrove. Beberapa lokasi tersebut melibatkan kelompok masyarakat dan komunitas lokal, seperti Pengudang, Gudi Farm, serta kawasan yang dikelola komunitas Akar Bumi di Pandang Tak Jemu.
Pengembangan wisata berbasis mangrove ini juga melibatkan biro perjalanan dan sektor perhotelan untuk mempromosikan paket wisata yang menggabungkan rekreasi dengan konservasi lingkungan.
"Karakteristik Kepri ini unik, potensinya adalah wisatawan dan mangrove. Kami ingin pembangunan kehutanan dapat memanfaatkan potensi daerah tersebut secara optimal," ucap Haris.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Mangrove Bintan bisa jadi kawasan budidaya dan wisata berkelanjutan