Nelayan Batam Terpikat Rengkam
Selasa, 5 November 2013 23:30 WIB
(antarakepri.com/Evy R. Syamsir)
Kayuhan sampan Gani (72) berhenti ditengah laut diantara perairan Kampung Tua Tiangwangkang dengan Pulau Panjang, Kecamatan Bulang, Batam.
Sebatang kayu sepanjang badan sampannya lebih kurang enam meter dikeluarkan Gani dari sisi kirinya. Salah satu ujung tongkat panjang itu terdapat batangan besi berbentuk pengait.
Dengan ditemani istrinya Dahlia (70), pasangan gaek ini menjulurkan galah panjang itu menghujam ke dasar laut lalu, tak lama kemudian ditariknya dan pada ujung kawat bergelantungan rumput laut yang disebutnya rengkam.
"Beginilah kami setiap hari, saat toho (surut-Red) melaut mencari rengkam. Cari ikan sekarang susah dah tak ada lagi. Tapi rengkam banyak dan laku dijual," ujar Gani.
Ayah tujuh anak dan kakek empat cucu yang tetap melaut diusia rentanya itu beralasan, ia mencari rengkam karena harga jualnya pasti dan tanaman tersebut juga melimpah di perairan yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Hal tersebut berbeda dengan jika dia tetap berperan sebagai nelayan.
Tidak hanya Gani yang sore menjelang petang pada Minggu terakhir Oktober lalu mencari rengkam, tapi juga beberapa warga yang bermukim di pulau-pulau kecil di perairan sekitar Jembatan I Barelang.
"Dalam empat bulan terakhir ini, masyarakat kami banyak yang mencari rengkam. Termasuk saya. Kadang kalau tak ada penumpang boat, saya juga mencari rengkam,†ujar Ahyar (47) warga Pulau Akar yang sehari-hari bekerja sebagai pengemudi boat.
Menurut dia, rengkam sebelum dijual terlebih dahulu di jemur higga kering. Rengkam kering dihargai Rp1.500 per kilogram oleh pengumpul yang datang ke tempat warga.
"Kami tak perlu mengeluarkan modal untuk mencari rengkam karena tanaman laut ini banyak ditempat kami. Kerjanya juga tak susah, jika tak dipantai ya agak ketengah lautlah mencarinya,†ujar Ahyar.
Saat dijemur dengan cara digantung pada tali bentangan hanya butuh beberapa jam saja tanaman yang termasuk jenis rumput laut itu kering.
"Dalam sehari dapat juga Rp200.000 sampai Rp350.000 dari hasil rengkam. Bayangkan penghasilan seperti itu belum tentu didapat jika jadi nelayan,†katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengelolaan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan DKP Kepri, DR. Eddiwan mengatakan rengkam termasuk dalam keluarga sargassum yakni sejenis rumput laut yang banyak tumbuh di perairan Kepulauan Riau.
Tanaman ini termasuk tumbuhan pantai yang hidup dalam kawasan perairan berkarang, berpasir dan berlumpur. Rengkam berfungsi sebagai penjaga ekosistem laut dan tempat ikan berkembang biak. Selain itu juga penjaga suhu air laut, penyuplai oksigen dan penyelamat abrasi pantai dari gempuran ombak dan arus laut.
"Tanaman laut ini juga multi fungsi tidak hanya berperan sebagai penjaga lingkungan laut tapi juga penyelamat ekonomi masyarakat pesisir karena punya nilai ekonomi yang tinggi," ujar Eddiwan.
Ia mengakui, selama ini rengkam tidak dilirik oleh masyarakat pesisir karena tidak dapat dimanfaatkan sebagai makanan manusia sebab kandungan seratnya sangat tinggi, namun rengkam bernilai jual tinggi sebagai pakan ternak.
"Rengkam telah lama dimanfaatkan di Jepang sebagai pakan ternak karena banyak mengandung karbohidrat dan protein," ujar Eddiwan.
Pakar energi maritim ini mengatakan, pihaknya menyambut baik pemanfaatan rengkam sebagai komoditi komersial apalagi ada peluang pasar yang cukup besar. Tanaman ini mudah tumbuh di perairan manapun dan dalam masa 3-4 bulan telah dapat dipanen.
"Pengolahannya hanya butuh teknologi sederhana. Setelah dikeringkan lalu dihancurkan dan menjadi bahan pakan ternak ataupun pupuk tanaman," ungkapnya.
Ia mengharapkan, apa yang dilakukan masyarakat saat ini tidak hanya sekedar mencari dan mengeringkan rengkam tetapi masyarakat dapat secara langsung mengolah tanaman tersebut sebagai pakan ternak dan pupuk agar nilai jualnya lebih tinggi. (Evy R. Syamsir)
Sebatang kayu sepanjang badan sampannya lebih kurang enam meter dikeluarkan Gani dari sisi kirinya. Salah satu ujung tongkat panjang itu terdapat batangan besi berbentuk pengait.
Dengan ditemani istrinya Dahlia (70), pasangan gaek ini menjulurkan galah panjang itu menghujam ke dasar laut lalu, tak lama kemudian ditariknya dan pada ujung kawat bergelantungan rumput laut yang disebutnya rengkam.
"Beginilah kami setiap hari, saat toho (surut-Red) melaut mencari rengkam. Cari ikan sekarang susah dah tak ada lagi. Tapi rengkam banyak dan laku dijual," ujar Gani.
Ayah tujuh anak dan kakek empat cucu yang tetap melaut diusia rentanya itu beralasan, ia mencari rengkam karena harga jualnya pasti dan tanaman tersebut juga melimpah di perairan yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Hal tersebut berbeda dengan jika dia tetap berperan sebagai nelayan.
Tidak hanya Gani yang sore menjelang petang pada Minggu terakhir Oktober lalu mencari rengkam, tapi juga beberapa warga yang bermukim di pulau-pulau kecil di perairan sekitar Jembatan I Barelang.
"Dalam empat bulan terakhir ini, masyarakat kami banyak yang mencari rengkam. Termasuk saya. Kadang kalau tak ada penumpang boat, saya juga mencari rengkam,†ujar Ahyar (47) warga Pulau Akar yang sehari-hari bekerja sebagai pengemudi boat.
Menurut dia, rengkam sebelum dijual terlebih dahulu di jemur higga kering. Rengkam kering dihargai Rp1.500 per kilogram oleh pengumpul yang datang ke tempat warga.
"Kami tak perlu mengeluarkan modal untuk mencari rengkam karena tanaman laut ini banyak ditempat kami. Kerjanya juga tak susah, jika tak dipantai ya agak ketengah lautlah mencarinya,†ujar Ahyar.
Saat dijemur dengan cara digantung pada tali bentangan hanya butuh beberapa jam saja tanaman yang termasuk jenis rumput laut itu kering.
"Dalam sehari dapat juga Rp200.000 sampai Rp350.000 dari hasil rengkam. Bayangkan penghasilan seperti itu belum tentu didapat jika jadi nelayan,†katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengelolaan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan DKP Kepri, DR. Eddiwan mengatakan rengkam termasuk dalam keluarga sargassum yakni sejenis rumput laut yang banyak tumbuh di perairan Kepulauan Riau.
Tanaman ini termasuk tumbuhan pantai yang hidup dalam kawasan perairan berkarang, berpasir dan berlumpur. Rengkam berfungsi sebagai penjaga ekosistem laut dan tempat ikan berkembang biak. Selain itu juga penjaga suhu air laut, penyuplai oksigen dan penyelamat abrasi pantai dari gempuran ombak dan arus laut.
"Tanaman laut ini juga multi fungsi tidak hanya berperan sebagai penjaga lingkungan laut tapi juga penyelamat ekonomi masyarakat pesisir karena punya nilai ekonomi yang tinggi," ujar Eddiwan.
Ia mengakui, selama ini rengkam tidak dilirik oleh masyarakat pesisir karena tidak dapat dimanfaatkan sebagai makanan manusia sebab kandungan seratnya sangat tinggi, namun rengkam bernilai jual tinggi sebagai pakan ternak.
"Rengkam telah lama dimanfaatkan di Jepang sebagai pakan ternak karena banyak mengandung karbohidrat dan protein," ujar Eddiwan.
Pakar energi maritim ini mengatakan, pihaknya menyambut baik pemanfaatan rengkam sebagai komoditi komersial apalagi ada peluang pasar yang cukup besar. Tanaman ini mudah tumbuh di perairan manapun dan dalam masa 3-4 bulan telah dapat dipanen.
"Pengolahannya hanya butuh teknologi sederhana. Setelah dikeringkan lalu dihancurkan dan menjadi bahan pakan ternak ataupun pupuk tanaman," ungkapnya.
Ia mengharapkan, apa yang dilakukan masyarakat saat ini tidak hanya sekedar mencari dan mengeringkan rengkam tetapi masyarakat dapat secara langsung mengolah tanaman tersebut sebagai pakan ternak dan pupuk agar nilai jualnya lebih tinggi. (Evy R. Syamsir)
Pewarta :
Editor : Jo Seng Bie
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Disdik Kepri anjurkan satuan pendidikan perbanyak tadarus selama bulan Ramadhan
14 February 2026 18:16 WIB
Terpopuler - Hiburan
Lihat Juga
Suzuki luncurkan Mobil listrik pertama di Indonesia, harga mulai Rp750 jutaan
05 February 2026 13:31 WIB
Dampak syuting Lisa Blackpink di Kota Tua Jakarta, UMKM terima kompensasi
02 February 2026 13:12 WIB
Film Joko Anwar, Ghost in the Cell terpilih di Berlin International Film Festival 2026
16 January 2026 14:43 WIB