Batam (Antara Kepri) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Hang Nadim Batam memantau terdapat lima titik panas yang berasal dari kebakaran hutan di penjuru Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau, kata  Kepala BMKG Batam Phillip Mustamu.

"Ada beberapa 'hot spot', ada lima " kata Phillip Mustamu di Batam, Kamis.

Menurut dia, hot spot di Batam yang terpantau masih kecil. Asap yang dihasilkannya pun belum parah dan masih aman untuk penerbangan.

"'Feasibility'-nya masih delapan sampai sembilan kilometer, masih aman," kata dia.

Kebakaran hutan di Batam dipicu suhu udara yang tinggi, kurangnya jumlah curah hujan dan disertai kecepatan angin yang kencang.

BMKG memperingatkan masyarakat agar tidak membuang puntung rokok sembarangan agar tidak menimbulkan kebakaran.

Sementara itu, Phillip juga memastikan kabut asap dari kebakaran hutan di Sumatera tidak sampai ke Batam.

"Kalau sekarang ada kabut asap, itu berasal dari kebakaran hutan di Batam sendiri, bukan dari Sumatera," kata dia.

Saat ini angin bertiup dari arah utara sampai timur laut. Kebakaran lahan di Sumatera tidak sampai tertiup di Kepri.

Sementara itu, Dinas Kelautan Perikanan, Peternakan, dan Kehutanan Kota Batam mencatat sejak Januari hingga awal Maret 2014 hutan lindung yang terbakar mencapai 265 hektare.

"Kami mencatat 19 kali terjadi kebakaran dengan luas lahan terbakar mencapai 265 hektare. Kami menduga selain karena cuaca panas, ada unsur kesengajaan dan kelalaian yang berujung hutan terbakar," kata Kepala Bidang Kehutanan Dinas KP2K Batam, Emri Zuharmen.

Ia mengatakan di antara 19 titik hutan terbakar tersebut berada di Sei Harapan, Sei Temiang, Mata Kucing, Bukit Dangas, Bukit Harimau Sekupang, dan Sei Pancur.

Selain hutan lindung, dalam periode yang sama sejumlah hutan konservasi di Batam juga terbakar.

"Untuk hutan konservasi ada sekitar 20 hektare. Tempatnya di hutan Taman Wisata Alam Mukakuning," kata Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau, Nur Patria Kurniawan. (Antara)

Editor: Rusdianto