Tanjungpinang (Antara Kepri) - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mengutamakan musyawarah dalam konferensi cabang berdasarkan keputusan pengurus pusat.

"Konfercab ini menggunakan musyawarah mufakat, bukan voting atau cara lainnya," kata Ketua Dewan Pimpinan Daerah PDIP Kepri Soerya Respationo saat memberi sambutan dalam Konfercab PDIP se-Kepri di salah satu hotel di Tanjungpinang, Selasa.

Soerya menegaskan dalam konfercab akan direkomendasikan tiga nama, yang salah satu di antaranya diusung menjadi ketua melalui hasil musyawarah. Bila musyawarah gagal dilaksanakan atau tidak membuahkan hasil, mereka diminta untuk mengundurkan diri sebagai pengurus PDIP.

"Kalau tidak membuahkan hasil, silahkan mengundurkan diri. Kalau musyawarah saja tidak berhasil, itu bukan kader PDIP yang militan," ujarnya.

Dalam pidatonya, Soerya mengancam akan memecat kader PDIP yang tidak setuju dengan keputusan DPP PDIP itu. "Yang tidak setuju silahkan tunjuk tangan, keluar dari ruangan dan keluar dari PDIP," ujarnya.

Soerya berulang kali mengancam akan memecat kadernya jika tidak setuju dengan keputusan tersebut. "Yang tidak sanggup, silahkan berdiri, tinggalkan ruangan ini dan copot atribut PDIP," katanya.

Menurut dia, musyawarah untuk mufakat merupakan cara yang paling baik dalam proses pemilihan. Kader PDIP harus bisa bermusyawarah untuk melahirkan pemimpin baru.

"Jika tidak bisa bermusyawarah, berarti belum sah menjadi kader PDIP," katanya.

Konfercab PDIP Tanjungpinang, Bintan, Natuna, Kepulauan Anambas, Karimun, Lingga dan Batam dilaksanakan secara serentak di salah satu hotel di Tanjungpinang. Dalam konferensi ini juga diputuskan mengusung Megawati Soekarno Putri sebagai Ketua Umum PDIP periode selanjutnya.

"Jangan ada yang berkhianat," kata Soerya memperingatkan kadernya. (Antara)

Editor: Rusdianto