Petani Lingga Mengeluh Harga Lada Jatuh
Selasa, 22 Agustus 2017 15:51 WIB
Dua orang petani lada di Dusun Malar, Desa Mepar, Kecamatan Lingga, sedang memanen sahang (lada). (Antarakepri/Ardhi)
Lingga (Antara Kepri) - Petani sahang (lada) di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, mengeluhkan harga jual hasil panen lada ke penampung yang semakin jatuh sejak enam bulan terakhir.
"Dari harga Rp180.000 per Kg pada enam bulan lalu, kini sudah turun menjadi Rp85.000 per Kg. Sementara biaya produksi kami tetap tinggi dan cenderung naik terus," kata Arifin, salah seorang petani lada di Daik Lingga, Selasa.
Dia mengatakan, dengan harga jual ke penampung yang hanya Rp85.000 per Kg, membuat penghasilan bersih petani per masa panen (enam bulan) menjadi sangat kecil.
"Biaya perawatan perpohon itu sekitar Rp70.000 dalam satu tahun. Itu sudah termasuk pupuk nonsubsidi yang harganya sekitar Rp500.000 per karung 50 Kg," terangnya.
Dengan kemampuan panen yang hanya dua kali pertahun, petani sulit memperoleh keuntungan. Kondisi ini berdampak pada penurunan kualitas produksi komoditas tersebut.
Sebelum harga jual merosot, geliat sektor pertanian jenis ini meningkat signifikan. Para pemilik modal di Lingga semakin banyak yang menanamkan modalnya disekor itu.
"Ada yang membangun kebun sampai puluhan hektar. Itu karena banyak petani sahang yang berhasil meningkatkan taraf hidup. Dulu pernah harga jualnya mencapai Rp200.000 per Kg. Kualitas sahang Lingga dikenal cukup baik," ungkapnya.
Dia berharap, pemerintah mampu memberikan solusi meningkatkan kembali harga jual ke penampung atau menurunkan biaya produksi dengan mensubsidi kebutuhan pupuk para petani. (Antara)
Editor: Evy R Syamsir
"Dari harga Rp180.000 per Kg pada enam bulan lalu, kini sudah turun menjadi Rp85.000 per Kg. Sementara biaya produksi kami tetap tinggi dan cenderung naik terus," kata Arifin, salah seorang petani lada di Daik Lingga, Selasa.
Dia mengatakan, dengan harga jual ke penampung yang hanya Rp85.000 per Kg, membuat penghasilan bersih petani per masa panen (enam bulan) menjadi sangat kecil.
"Biaya perawatan perpohon itu sekitar Rp70.000 dalam satu tahun. Itu sudah termasuk pupuk nonsubsidi yang harganya sekitar Rp500.000 per karung 50 Kg," terangnya.
Dengan kemampuan panen yang hanya dua kali pertahun, petani sulit memperoleh keuntungan. Kondisi ini berdampak pada penurunan kualitas produksi komoditas tersebut.
Sebelum harga jual merosot, geliat sektor pertanian jenis ini meningkat signifikan. Para pemilik modal di Lingga semakin banyak yang menanamkan modalnya disekor itu.
"Ada yang membangun kebun sampai puluhan hektar. Itu karena banyak petani sahang yang berhasil meningkatkan taraf hidup. Dulu pernah harga jualnya mencapai Rp200.000 per Kg. Kualitas sahang Lingga dikenal cukup baik," ungkapnya.
Dia berharap, pemerintah mampu memberikan solusi meningkatkan kembali harga jual ke penampung atau menurunkan biaya produksi dengan mensubsidi kebutuhan pupuk para petani. (Antara)
Editor: Evy R Syamsir
Pewarta : Ardhi
Editor : Kepulauan Riau
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemkot Batam bayarkan premi jaminan sosial ketenagakerjaan 2026 bagi 2.500 petani
11 May 2026 14:50 WIB
Pemkab Natuna berhasil melampaui target nasional luas tanam padi hingga 7,8 ha
17 December 2025 5:15 WIB
Terpopuler - Kesra
Lihat Juga
BMKG akhiri peringatan dini tsunami pascagempa 7,7 magnitudo di Laut Sulawesi
08 June 2026 12:43 WIB