Telkomsel, Membuka Isolasi Bunda Tanah Melayu
Kamis, 3 Januari 2019 23:09 WIB
SOTONG KERING LINGGA. Huzairi (45), menunggu jemuran ikan sotong atau cumi-cumi di Pulau Benan, Lingga, Kepulauan Riau, Sabtu (1/6). Komoditas andalan nelayan setempat itu sebelumnya kesulitan menembus pasar karena minimnya dukungan fasilitas promosi. Hadirnya layanan data Telkomsel di Lingga membuat komoditas itu dapat menjangkau pasar secara online. ANTARA FOTO/Joko Sulistyo.
Bunda Tanah Melayu, untaian predikat yang begitu memikat untuk Lingga, sebuah kabupaten kepulauan, yang berada di perairan sebelah utara Indonesia. Berada di antara Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera, sejarah panjang Melayu sebagai bangsa dan budaya seakan terseok-seok, terasing di putaran zaman.
Mengulas Lingga, sulit rasanya melepaskan wilayah dengan dengan 9 kecamatan, 7 kelurahan dan 74 desa itu dari perkembangan sejarah besar kerajaan Melayu abad pertengahan. Permata nan elok dengan kontur dan elevasi menawan itu pernah besar, menjadi ibukota bagi kerajaan yang memerintah hingga daratan Malaysia, pada era Sultan Mahmud Syah II (1685–1699) silam.
Mengekor laju ekspansi bangsa barat ke wilayah timur, kolonialisme juga menyentuh Lingga. Bangsa barat bercokol di Lingga hingga awal abad ke 19. Ratusan tahun wilayah yang kini masyhur dengan sesanti Bertingkap Alam Berpintu Illahi berdarah-darah, menghadapi praktik kolonialisme.
Catatan sejarah yang sangat panjang disajikan Lingga dalam manuskrip-manuskrip Melayu kuno, dengan huruf arab tanpa harakat yang jumlahnya ratusan, bahkan ribuan. Beratus artefak dan peninggalan kearifan masa dahulu tersebar nyaris di seluruh titik wilayah yang beribukota di Daik itu.
Lingga menyimpan potensi besar. Namun sekian tahun bagai absen dari peradaban, dan seperti tergerus oleh kemajuan zaman. Isolasi geografis yang dihadapi Lingga kian parah dengan keterlambatan wilayah itu berlari mengikuti peradaban tanpa sekat, era teknologi informasi.
Berdiri sendiri sebagai wilayah kabupaten pemekaran, menyusul terpisahnya Kepulauan Riau dari Provinsi Riau 24 September 2002 silam tidak serta merta membuat nasib Lingga membaik. Setidaknya hingga sepuluh tahun, sejak saat itu.
14 Agustus 2018, bertepatan dengan perayaan Hari Pramuka, ribuan urat nadi warga Lingga seakan kembali merasa muda. Betapa tidak, Alias Wello, Bupati Lingga, menerima sejumlah perwakilan dari PT Telekomunikasi Seluler, dari Tanjungpinang di rumah dinasnya.
Wello membawa serta Muhammad Nizar dan sejumlah kepala desa dan lurah untuk bersama-sama menyongsong harapan baru, nafas segar untuk mengejar ketertinggalan. Dari pertemuan itu, Telkomsel berkomitmen meningkatkan jaringan untuk pelayanan voice maupun data di Lingga.
Wello mengaku impiannya membangun Ligga akan terbantu dengan komitmen dari Telkomsel itu. Menurut dia, dengan hadirnya layanan data hingga Long Term Evolution (LTE) akan mendorong warganya bersaing di tingkat regional.
"Komoditas unggulan pertanian, perikanan dan hasil laut lain memiliki harapan baru, pembukaan pasar baru dan perluasan jaringan pemasaran. Begitu juga potensi wisata lain," ungkap Wello.
Wello berkisah, lebih satu dekade ribuan warga di wilayahnya tak dapat mengembangkan usaha, karena sulitnya menjangkau pasar akibat kendala komunikasi. Dia bahkan mengaku nyaris jenuh menghadapi tuntutan warga melalui berbagai komponen yang meminta bupati menghadirkan salah satu kebutuhan pokok masyarakat moderen, sinyal.
"Kami di Pemkab bersama DPRD, LSM bahkan terus berupaya menjalin komunikasi dengan pihak Telkomsel untuk dapat mewujudkan mimpi masyarakat di pelosok desa di Kabupaten Lingga," katanya.
Kabar baik dan upaya kerja keras itupun akhirnya perlahan-lahan mulai terwujud, setelah Telkomsel mulai menambah kapasitas jaringan dan tower di sejumlah pulau. Peningkatan jaringan itu menurutnya, sudah sangat lama diimpikan oleh masyarakat di pesisir desa yang ada di Kabupaten Lingga.
Tak kurang dari empat belas tahun Kabupaten Lingga berdiri, masyarakat di desa-desa pesisir akhirnya merasa merdeka, seiring hadirnya lambang 4G atau LTE di pojok atas gawai mereka. Wello mengaku sangat bersyukur, Telkomsel yang disebutnya sebagai provider plat merah itu betul-betul bersedia mewujudkan impian warga Lingga.
“Sekarang, sudah hanya tinggal satu atau dua pulau saja yang belum ada 4G, tapi layanan data ada lah, bisa untuk jualan ikan atau promosi jasa wisata di media sosial," sebut Wello.
Tak hanya sektor perekonomian masyarakat yang merasakan berkah digital. Wello menyatakan, pelayanan pemerintah juga semakin mudah dijangkau oleh pengguna dengan hadirnya solusi administrasi berjejaring.
Input data kegiatan pemerintahan, pengurusan administrasi kependudukan dan berbagai layanan dasar warga juga mendapat kesempatan untuk lebih baik.
Senayang, Akhirnya Triji Juga
3G, evolusi teknologi komunikasi generasi ketiga, atau triji, adalah kosakata baru bagi warga Senayang. Wilayah kecamatan ini memiliki 13 desa, 59 pulau berpenghuni dan 303 pulau kosong. Kebanggaan warga menyebut triji cukup beralasan, karena dengan wilayah yang demikian luasnya, ada pekerjaan cukup berat dihadapi oleh Telkomsel yang patut diapreseasi.
Telkomsel awalnya menjawab keresahan masyarakat Senayang yang tidak dapat memanfaatkan jaringan internet di hampir seluruh wilayah mereka. Pada bulan Agustus 2018, jaringan 3G mulai dibuka di pulau itu, dan aktif 24 jam pada bulan September. Hingga kini, dalam hitungan bulan, seluruh pelosok Kecamatan Senayang mendapat jaringan 4G.
Sebelumnya warga Senayang hanya dapat meggunakan ponsel untuk keperluan telpon dan SMS. Jika memerlukan layanan data internet, masyarakat harus menyebrang ke ibukota kabupaten, di Daiklingga, bahkan ke Kabupaten Bintan dengan beberapa jam pelayaran kapal cepat.
Meski Senayang sudah dapat menggunakan internet beberapa daerah lainnya seperti di Lingga Timur, Langkap Singkep Barat, Sungai Tenam, Tanjungkelit dan beberapa daerah lainnya saat ini juga sedang berbenah untuk mendapatkan jaringan dari telepon seluler.
Hal inilah menjadi persoalan yang dialami masyarakat Kabupaten Lingga, demikian juga dengan pemerintah setempat karena dukungan teknologi komunikasi sangat dibutuhkan, demi mendukung pembangunan dan perekenomian setempat.
"Beberapa daerah sudah kita upayakan, saat ini yang masih terkendala tinggal satu yaitu daerah Pekajang," ujar Wello.
Pekajang yang merupakan daerah perbatasan antara Lingga dan Provinsi Bangka Belitung ini, sejak beberapa tahun yang lalu hingga kini memang belum dapat terselesaikan. Bahkan Pemerintah Provinsi Kepri sendiri sudah beberapa kali turun ke wilayah desa tersebut untuk mengatasi persoalan yang ada, namun hingga kini belum juga ada solusi.
Khusus untuk di wilayah Lingga Timur, pemerintah mengarahkan Telkomsel untuk fokus di Desa Kudung yang selama ini belum terjangkau layanan komunikasi. Demikian juga dengan daerah di wilayah Desa Belungkur, Kecamatan Lingga Utara.
Terkini, beberapa jaringan internet sudah mulai lancar di beberapa pelosok desa. Untuk wilayah Pulau Singkep, hampir semua wilayah sudah dapat menikmati jaringan 4G, mulai dari Singkep Selatan, Singkep Pesisir, Singkep, Singkep Barat dan Kepulauan Posek.
Di Senayang, layanan data merupakan lompatan besar. Ulfa, (33) menyebut, saat ini dirinya dapat merasa sejajar dengan kenalan dari luar wilayah. Perajin kerupuk itu mendapatkan manfaat ekonomis dan gengsi sekaligus, dari hasil kerja keras Telkomsel membuka isolasi Bunda Tanah Melayu.
"Bisa merasakan belanja online, main facebook sekaligus jualan kerupuk," ungkapnya.
Mengulas Lingga, sulit rasanya melepaskan wilayah dengan dengan 9 kecamatan, 7 kelurahan dan 74 desa itu dari perkembangan sejarah besar kerajaan Melayu abad pertengahan. Permata nan elok dengan kontur dan elevasi menawan itu pernah besar, menjadi ibukota bagi kerajaan yang memerintah hingga daratan Malaysia, pada era Sultan Mahmud Syah II (1685–1699) silam.
Mengekor laju ekspansi bangsa barat ke wilayah timur, kolonialisme juga menyentuh Lingga. Bangsa barat bercokol di Lingga hingga awal abad ke 19. Ratusan tahun wilayah yang kini masyhur dengan sesanti Bertingkap Alam Berpintu Illahi berdarah-darah, menghadapi praktik kolonialisme.
Catatan sejarah yang sangat panjang disajikan Lingga dalam manuskrip-manuskrip Melayu kuno, dengan huruf arab tanpa harakat yang jumlahnya ratusan, bahkan ribuan. Beratus artefak dan peninggalan kearifan masa dahulu tersebar nyaris di seluruh titik wilayah yang beribukota di Daik itu.
Lingga menyimpan potensi besar. Namun sekian tahun bagai absen dari peradaban, dan seperti tergerus oleh kemajuan zaman. Isolasi geografis yang dihadapi Lingga kian parah dengan keterlambatan wilayah itu berlari mengikuti peradaban tanpa sekat, era teknologi informasi.
Berdiri sendiri sebagai wilayah kabupaten pemekaran, menyusul terpisahnya Kepulauan Riau dari Provinsi Riau 24 September 2002 silam tidak serta merta membuat nasib Lingga membaik. Setidaknya hingga sepuluh tahun, sejak saat itu.
14 Agustus 2018, bertepatan dengan perayaan Hari Pramuka, ribuan urat nadi warga Lingga seakan kembali merasa muda. Betapa tidak, Alias Wello, Bupati Lingga, menerima sejumlah perwakilan dari PT Telekomunikasi Seluler, dari Tanjungpinang di rumah dinasnya.
Wello membawa serta Muhammad Nizar dan sejumlah kepala desa dan lurah untuk bersama-sama menyongsong harapan baru, nafas segar untuk mengejar ketertinggalan. Dari pertemuan itu, Telkomsel berkomitmen meningkatkan jaringan untuk pelayanan voice maupun data di Lingga.
Wello mengaku impiannya membangun Ligga akan terbantu dengan komitmen dari Telkomsel itu. Menurut dia, dengan hadirnya layanan data hingga Long Term Evolution (LTE) akan mendorong warganya bersaing di tingkat regional.
"Komoditas unggulan pertanian, perikanan dan hasil laut lain memiliki harapan baru, pembukaan pasar baru dan perluasan jaringan pemasaran. Begitu juga potensi wisata lain," ungkap Wello.
Wello berkisah, lebih satu dekade ribuan warga di wilayahnya tak dapat mengembangkan usaha, karena sulitnya menjangkau pasar akibat kendala komunikasi. Dia bahkan mengaku nyaris jenuh menghadapi tuntutan warga melalui berbagai komponen yang meminta bupati menghadirkan salah satu kebutuhan pokok masyarakat moderen, sinyal.
"Kami di Pemkab bersama DPRD, LSM bahkan terus berupaya menjalin komunikasi dengan pihak Telkomsel untuk dapat mewujudkan mimpi masyarakat di pelosok desa di Kabupaten Lingga," katanya.
Kabar baik dan upaya kerja keras itupun akhirnya perlahan-lahan mulai terwujud, setelah Telkomsel mulai menambah kapasitas jaringan dan tower di sejumlah pulau. Peningkatan jaringan itu menurutnya, sudah sangat lama diimpikan oleh masyarakat di pesisir desa yang ada di Kabupaten Lingga.
Tak kurang dari empat belas tahun Kabupaten Lingga berdiri, masyarakat di desa-desa pesisir akhirnya merasa merdeka, seiring hadirnya lambang 4G atau LTE di pojok atas gawai mereka. Wello mengaku sangat bersyukur, Telkomsel yang disebutnya sebagai provider plat merah itu betul-betul bersedia mewujudkan impian warga Lingga.
“Sekarang, sudah hanya tinggal satu atau dua pulau saja yang belum ada 4G, tapi layanan data ada lah, bisa untuk jualan ikan atau promosi jasa wisata di media sosial," sebut Wello.
Tak hanya sektor perekonomian masyarakat yang merasakan berkah digital. Wello menyatakan, pelayanan pemerintah juga semakin mudah dijangkau oleh pengguna dengan hadirnya solusi administrasi berjejaring.
Input data kegiatan pemerintahan, pengurusan administrasi kependudukan dan berbagai layanan dasar warga juga mendapat kesempatan untuk lebih baik.
Senayang, Akhirnya Triji Juga
3G, evolusi teknologi komunikasi generasi ketiga, atau triji, adalah kosakata baru bagi warga Senayang. Wilayah kecamatan ini memiliki 13 desa, 59 pulau berpenghuni dan 303 pulau kosong. Kebanggaan warga menyebut triji cukup beralasan, karena dengan wilayah yang demikian luasnya, ada pekerjaan cukup berat dihadapi oleh Telkomsel yang patut diapreseasi.
Telkomsel awalnya menjawab keresahan masyarakat Senayang yang tidak dapat memanfaatkan jaringan internet di hampir seluruh wilayah mereka. Pada bulan Agustus 2018, jaringan 3G mulai dibuka di pulau itu, dan aktif 24 jam pada bulan September. Hingga kini, dalam hitungan bulan, seluruh pelosok Kecamatan Senayang mendapat jaringan 4G.
Sebelumnya warga Senayang hanya dapat meggunakan ponsel untuk keperluan telpon dan SMS. Jika memerlukan layanan data internet, masyarakat harus menyebrang ke ibukota kabupaten, di Daiklingga, bahkan ke Kabupaten Bintan dengan beberapa jam pelayaran kapal cepat.
Meski Senayang sudah dapat menggunakan internet beberapa daerah lainnya seperti di Lingga Timur, Langkap Singkep Barat, Sungai Tenam, Tanjungkelit dan beberapa daerah lainnya saat ini juga sedang berbenah untuk mendapatkan jaringan dari telepon seluler.
Hal inilah menjadi persoalan yang dialami masyarakat Kabupaten Lingga, demikian juga dengan pemerintah setempat karena dukungan teknologi komunikasi sangat dibutuhkan, demi mendukung pembangunan dan perekenomian setempat.
"Beberapa daerah sudah kita upayakan, saat ini yang masih terkendala tinggal satu yaitu daerah Pekajang," ujar Wello.
Pekajang yang merupakan daerah perbatasan antara Lingga dan Provinsi Bangka Belitung ini, sejak beberapa tahun yang lalu hingga kini memang belum dapat terselesaikan. Bahkan Pemerintah Provinsi Kepri sendiri sudah beberapa kali turun ke wilayah desa tersebut untuk mengatasi persoalan yang ada, namun hingga kini belum juga ada solusi.
Khusus untuk di wilayah Lingga Timur, pemerintah mengarahkan Telkomsel untuk fokus di Desa Kudung yang selama ini belum terjangkau layanan komunikasi. Demikian juga dengan daerah di wilayah Desa Belungkur, Kecamatan Lingga Utara.
Terkini, beberapa jaringan internet sudah mulai lancar di beberapa pelosok desa. Untuk wilayah Pulau Singkep, hampir semua wilayah sudah dapat menikmati jaringan 4G, mulai dari Singkep Selatan, Singkep Pesisir, Singkep, Singkep Barat dan Kepulauan Posek.
Di Senayang, layanan data merupakan lompatan besar. Ulfa, (33) menyebut, saat ini dirinya dapat merasa sejajar dengan kenalan dari luar wilayah. Perajin kerupuk itu mendapatkan manfaat ekonomis dan gengsi sekaligus, dari hasil kerja keras Telkomsel membuka isolasi Bunda Tanah Melayu.
"Bisa merasakan belanja online, main facebook sekaligus jualan kerupuk," ungkapnya.
Pewarta : Nurjali
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pelni Tanjungpinang ajak warga manfaatkan diskon tiket kapal periode libur sekolah
06 June 2026 15:57 WIB
Harga minyak mentah Indonesia pada Mei 2026 turun ke 106,56 dolar AS per barel
06 June 2026 14:04 WIB
Terpopuler - Ekonomi & FTZ
Lihat Juga
Pelni Tanjungpinang ajak warga manfaatkan diskon tiket kapal periode libur sekolah
06 June 2026 15:57 WIB
Harga minyak mentah Indonesia pada Mei 2026 turun ke 106,56 dolar AS per barel
06 June 2026 14:04 WIB