Batam (ANTARA) - Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam Rafki Rasyid menyatakan industri setempat sulit menerapkan "local value chain" sebagai langkah mempercepat pemulihan ekonomi akibat pandemi COVID-19.
"Kami mendukung 'local value chain,' tapi bahan baku lokal sulit memenuhi spek," kata Rafky di Batam, Kepulauan Riau, Kamis.
Ia mencontohkan, spek garam industri saja belum bisa dipenuhi dalam negeri.
Selain itu, biaya transportasi dari daerah lain di Indonesia ke Batam juga relatif lebih besar dibandingkan mengirim bahan baku dari Singapura, yang lokasinya lebih dekat ke kota industri itu.
"Permasalahan transportasi. Biaya pengiriman dari Singapura yang dekat, dibandingkan ketika kita memesan bahan baku dari Jawa yang jauh," kata dia.
Hal itu, lanjut Rafky, yang menjadi penghalang pembentukan "local value chain".
Meski begitu, menurut dia, industri di Batam dan Kepri masih bisa menerapkannya dengan memanfaatkan produksi UMKM setempat, untuk menekan biaya.
Dalam kesempatan yang sama, BI Kepri mendorong penguatan 'local value chain' untuk mengurangi ketergantungan impor.
Hal itu disampaikan kata Kepala Perwakilan BI Kepri, Musni H K Atmaja terkait upaya memulihkan ekonomi Kepulauan Riau yang menurun akibat pandemi COVID-19.
"Dalam jangka panjang mengembangkan industri berbasis sumber daya alam lokal dan mendorong penguatan 'local value chain' untuk mengurangi ketergantungan impor," kata dia.
Industri Batam sulit terapkan "local value chain"
Kamis, 10 September 2020 20:47 WIB
Ketua Apindo Batam Rafki Rasyid (Dok BI Kepri)
Pewarta : Yuniati Jannatun Naim
Editor : Evi Ratnawati
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pelni Tanjungpinang ajak warga manfaatkan diskon tiket kapal periode libur sekolah
06 June 2026 15:57 WIB
Harga minyak mentah Indonesia pada Mei 2026 turun ke 106,56 dolar AS per barel
06 June 2026 14:04 WIB
Terpopuler - Ekonomi & FTZ
Lihat Juga
Pelni Tanjungpinang ajak warga manfaatkan diskon tiket kapal periode libur sekolah
06 June 2026 15:57 WIB
Harga minyak mentah Indonesia pada Mei 2026 turun ke 106,56 dolar AS per barel
06 June 2026 14:04 WIB