Regulator tabung gas oksigen langka di Kepri

id Relawan COVID 19 Tanjungpinang, risau, regulator tabung, gas oksigen langka

Regulator tabung gas oksigen langka di Kepri

Relawan COVID-19 Tanjungpinang menyerahkan bantuan berupa regulator tabung oksigen kepada RSUP Kepri (Nikolas Panama)

Tanjungpinang (ANTARA) - Relawan COVID-19 Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau merasa risau lantaran regulator tabung gas oksigen langka saat puluhan pasien COVID-19 membutuhkan.

Anggota DPRD Kepri, Rudy Chua, yang juga Relawan COVID-19, di Tanjungpinang, Minggu, mengatakan, pihak rumah sakit di 
Tanjungpinang juga membutuhkan regulator.

"Kami meminjamkan puluhan regulator ke rumah sakit di Tanjungpinang," katanya, yang diusung Partai Hanura.

Rudy menjelaskan Relawan COVID-19 Tanjungpinang memiliki sekitar 40 tabung oksigen. Tabung oksigen itu dipinjam dari perusahaan penyedia oksigen di Galang Batang, Kabupaten Bintan.

Relawan terpaksa membeli regulator dari Singapura, yang dikirim melalui Batam. Namun jumlah regulator yang tersedia terbatas.

Di Kepri, menurut dia regulator tabung oksigen langka. Tabung oksigen berukuran 6 kubik juga sulit ditemukan di apotek. Jika ada, harga satu tabung oksigen mencapai 2-3 juta.

"Sampai saat kami masih mencari regulator agar oksigen dapat disalurkan ke tubuh warga," ucapnya.

Ia mengemukakan cukup banyak pasien COVID-19 yang melakukan isolasi mandiri setelah terinfeksi COVID-19, yang membutuhkan tabung oksigen. Dalam kondisi butuh, warga yang melakukan isolasi mandiri meminjam tabung oksigen tanpa regulator.

"Mereka mengupayakan sendiri untuk mendapatkan regulator," katanya.

Selain menyiapkan tabung oksigen dan regulator, Relawan COVID-19 Tanjungpinang juga memberikan bantuan obat-obatan yang dibutuhkan untuk pasien COVID-19. Banyak dokter dan perawat dari rumah sakit juga meminta obat-obatan tersebut seperti Vitamin D dengan dosis 5.000 iu.

"Obat-obatan untuk pasien COVID-19 juga langka di apotek sehingga dokter dan pasien meminta kepada kami," ujarnya.

 
Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar