
Bendera Sri dari Garut untuk Tanjungpinang

Perayaan ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia hampir tiba, dan pedagang musiman mulai ramai menjajakan bendera merah putih untuk menyongsong 17 Agustus 2010.
Tanjungpinang, ibukota Kepulauan Riau, sejak beberapa hari ini semarak pedagang musiman yang mengisi ruang-ruang hijau dan perempatan jalan dengan sang saka dan bandir dalam beberapa ukuran, corak dan harga.
"Kami sengaja datang dari Garut untuk menjual bendera setiapmenjelang 17 Agustus," kata seorang pedagang musiman di Jalan A Yani,Sri Mulyani (38), Minggu 25 Juli 2010.
Ia, seorang di antara puluhan pedagang musiman yang kini meramaikan tepi Jalan Ahmad Yani, Jalan DI Panjaitan, Jalan Gatot Subroto dan juga ada di perempatan lampu merah.
Sri mengatakan, sudah tahun keempat berjualan bendera di Kota Tanjungpinang, ibukota Kepulauan Riau.
Ia datang dari kampung di Desa Salam Nunggal, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
"Sudah menjadi tradisi di kampung kami dan orang Garut, pergi menjual bendera ke Sabang sampai Merauke setiap memasuki 17 Agustus," ujarnya.
Ia sudah sepekan di Kota Tanjungpinang bersama suami dan dua orang anaknya yang masih duduk di bangku sekolah.
Sri, ibu dari tiga orang anak, mengatakan hasil penjualan bendera dalam berbagai ukuran tersebut akan digunakan untuk membiayai pendidikan anaknya yang duduk dibangku kuliah, SMA dan SMP.
"Keuntungan kami untuk biaya sekolah. Alhamdulillah pada tahun-tahun kemarin lumayan untuk biaya sekolah tiga orang anak," ujar Sri.
Meski belum mengalami masa puncak penjualan, dalam sepekan Sri sudah untung Rp500 ribu.
"Seminggu ini masih sepi, biasanya mendekati 17 Agustus baru banyak yang terjual," ujarnya.
Di Jalan Ahmad Yani, Sri memajang bendera di tiga tempat. Satu dijagainya sendiri, yang kedua oleh anaknya, sedang yang di Jalan DI Panjaitan dijaga suaminya.
Para pedagang bendera dari Garut umumnya mengontrak rumah atau kamar ramai-ramai selama satu bulan berjualan bendera, dengan biaya Rp200 ribu sampai Rp400 ribu.
"Selain saya dan keluarga, juga ada warga Garut yang satu kontrakan. Kami patungan untuk bayar kontrakan," katanya.
Dua orang anak Sri, masing-masing bernama Tina dan Dea yang masih duduk di bangku kelas dua SMA dan SMP juga ikut berjualan bendera tidak jauh dari tempat ibunya.
Sri mengatakan kedua anaknya tidak mau ditinggal di kampung sehingga ia minta izin kepada pengelola sekolah untuk pergi bersamanya, berjualan bendera di Kota Gurindam 12.
"Mereka ingin membantu kami untuk mencari biaya sekolah," ujar Sri yang sehari-harinya di kampung berjualan bubur dan membeli rongsokan dari pemulung.
Stok bendera merah putih berbagai jenis dan ukuran, serta jenis bendera lainnya seperti umbul-umbul, bandir dibawa Sri dan anggota keluarganya sebanyak 50 kodi untuk stok satu bulan.
Dia dan keluarganya datang ke Tanjungpinang menumpang kapal Pelni KM Ceremai dan sandar di Kijang, Bintan, sebelum menuju Kota Tanjungpinang yang berjarak sekitar 30 km dari Kijang.
Karena pembeli yang umumnya pengguna jalan raya masih sepi, terkadang Sri dan anak-anaknya serta pedagang lain tidur-tiduran di atas tumpukan bendera sambil menunggu pembeli datang. (Btm1)
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
