
Ahmad Dahlan Menonton Ahmad Dahlan

Batam (ANTARA News) - Suasana sebuah bioskop yang berada di pusat perbelanjaan Mega Mall Batam, Provinsi Kepulauan Riau pada Jumat 17 September 2010 siang menjelang sore memang agak sedikit berbeda.
Puluhan anak dari sebuah panti asuhan antre rapi untuk menyaksikan sebuah film nasional berjudul "Sang Pencerah" bersama Wali Kota Batam, Ahmad Dahlan.
"Kami mau nonton film sama pak Wali," kata Sari, gadis berusia 12 tahun dengan girangnya.
Sangat beralasan apabila Sari begitu girang diajak menonton film di sebuah gedung bioskop yang mentereng mengingat keseharian gadis itu hanya menjalankan rutinitas sekolah kemudian kembali ke panti asuhan.
Selain mengajak puluhan anak dari panti asuhan, Dahlan juga mengajak belasan wartawan untuk menyimak perjuangan Kyai Haji Ahmad Dahlan salah seorang ulama besar dalam mendirikan organisasi keagamaan Muhammadiyah di Yogyakarta pada awal abad ke 20 yang dikisahkan dalam film tersebut.
Film yang berdurasi 112 menit yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo itu menghadirkan aktor maupun aktris papan atas Indonesia seperti Slamet Rahardjo Djarot, Sudjiwo Tedjo, Lukman Sardi, Zaskia Adya Mecca dan didukung pemain lainnya yakni Giring Nidji, Ricky Perdana, Mario Irwinsyah, Dennis Adishwara dan Abdurrahman Arif.
Adegan dibuka dengan pemunculan seorang Muhammad Darwis (KH Ahmad Dahlan muda) yang diperankan Ihsan "Idol" Taroreh begitu gusar melihat kultur sosial masyarakat Yogyakarta di tahun 1800-an yang banyak dihiasi dengan mistis, pengkultusan Imam Masjid Besar Kraton Yogyakarta hingga melencengnya arah kiblat shalat dari arah sebenarnya.
Darwis sendiri akhirnya memutuskan untuk pergi haji sekaligus menuntut ilmu keagamaan setelah mendapatkan restu dari ayahnya, Haji Abu Bakar.
Setelah lima tahun menuntut ilmu di Mekkah, Darwis pun pulang ke Yogyakarta dengan mengantongi sebuah nama yang diberikan oleh ulama Arab yakni Ahmad Dahlan (diperankan Lukman Sardi).
Bekal ilmu yang dipelajarinya di Arab Saudi tidak terus membuat seorang Ahmad Dahlan diterima kalangan masyarakat sekitar Masjid Besar Kraton Yogyakarta.
Dia yang sempat menjabat sebagai khatib Masjid Besar akhirnya harus melepaskan jabatan itu setelah materi khutbah maupun tindakan 'revolusionernya' meluruskan arah kiblat ditentang oleh Kyai Penghulu Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo) yang menjadi imam Masjid Besar Kauman.
Tak mendapat tempat di Masjid Besar, Ahmad Dahlan akhirnya memutuskan untuk membuat perkumpulan sendiri dengan mendirikan "Langgar Kidoel" di kampung Kauman, tepat di belakang Masjid Besar.
Sikap Ahmad Dahlan tersebut dianggap hal yang sesat oleh Kyai Penghulu Kamaludiningrat, Imam Besar Masjid Besar dengan memerintahkan massa untuk merobohkan "Langgar Kidoel".
Pemikiran modern Ahmad Dahlan mengantarnya untuk bergabung dengan organisasi Budi Utomo dengan menemui seorang tokoh nasional, Dokter Wahidin Soedirohoesodo yang diperankan oleh Pangky Suwito.
Selain itu, Ahmad Dahlan juga berkeinginan untuk menyebarkan agama Islam di kalangan sekolah Belanda dengan mengajarkan pelajaran agama.
Dari sinilah, dia akhirnya terinspirasi membuat sebuah sekolah berbasis agama dengan mengadopsi tata cara pendidikan Belanda.
Langkah itu akhirnya dianggap oleh sebagian besar ulama sebagai tindakan mencontoh orang kafir hanya karena menempatkan muridnya duduk di sebuah kursi seperti sekolah modern.
Tudingan itu tidak membuat langkah Ahmad Dahlan mundur.
Dengan bantuan dari istrinya, Siti Walidah yang diperankan oleh Zaskia Adya Mecca bersama dengan murid-muridnya yakni Sudja (Giring Nidji), Sangidu (Ricky Perdana), Fahrudin (Mario Irwinsyah), Hisyam (Dennis Adishwara) dan Dirjo (Abdurrahman Arif), Ahmad Dahlan membentuk Muhammadiyah yang berarti pengikut Nabi Muhammad.
Rp12 miliar
Film epik yang menghabiskan dana pembuatan hingga Rp12 miliar ini memang bisa dikategorikan sebagai film kolosal karena melibatkan banyak pemain.
Hanung juga berhasil merekonstruksi suasana Yogyakarta pada akhir abad ke 19 hingga awal abad ke 20 dengan nyaris sempurna.
Deretan dokar, tiruan Tugu Yogyakarta hingga rekonstruksi Masjid Besar Kraton mampu membawa penonton menyusuri Yogyakarta pada masa lampau.
Penggambaran yang dipaparkan dalam film ini mengingatkan pada karya sineas besar Indonesia Teguh Karya dan Eros Djarot yang begitu sukses merekonstruksi suasana Indonesia awal abad ke 20 dalam film November 1828 dan Tjoet Nyak Dien di era 1980-an.
Wali Kota Ahmad Dahlan usai menonton perjuangan Kyai Haji Ahmad Dahlan dalam film Sang Pencerah mengatakan apresiasinya terhadap karya anak negeri itu.
"Film ini sangat bagus dan semoga yang menontonnya mampu menyerap suri tauladan yang dimiliki Kyai Haji Ahmad Dahlan," kata Dahlan.
Dia mengatakan sangat bangga terhadap Muhammadiyah yang hingga di usia hampir satu abad itu mampu memberikan kontribusi positif terhadap perjalanan Indonesia.
"Masyarakat perlu menonton film ini karena mampu memberikan pencerahan pemikiran," sambung Dahlan. (ANT-142/S025/Btm1)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
