
Banyan Tree Bintan Lepaskan 59 Ekor Tukik

Tanjungpinang (ANTARA News) - Hotel dan Resor Banyan Tree Bintan, Kepulauan Riau, melepas 59 ekor tukik jenis penyu sisik (eretmochelys imbricata) hasil penangkaran telur yang dikumpulkan dari pesisir pantai kawasan wisata Lagoi, Bintan.
"Kegiatan ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan upaya menyelamatkan penyu jenis sisik dari kepunahan," kata Manager Corporate Social Responsibility (CSR) Banyan Tree Bintan, Henry Ali Singer, Senin, 4 Oktober 2010.
Henry mengatakan, pelepasan tukik tersebut dilakukan pada Minggu (3/10) petang disaksikan ratusan turis mancanegara di pantai Banyan Tree Bintan.
"Masih ada sekitar 220 butir telur penyu lagi yang diperkirakan akan menetas pertengahan Oktober 2010 dari tempat penangkaran," ujarnya.
Dia mengatakan, empat bulan terakhir Banyan Tree Bintan telah melepas sebanyak 364 tukik dari telur penyu yang dikumpulkan di Pantai Panjang kawasan wisata Lagoi pada saat musim bertelur dari bulan Maret sampai September.
Pelepasan pertama tukik tersebut dilakukan Manager Hotel Banyan Tree Bintan, Herman Puspa, disaksikan ratusan turis yang sangat antusias terutama anak-anak.
Ratusan turis tersebut mengabadikan tukik yang berupaya sekuat tenaga menuju laut lepas dari bibir pantai yang berjarak sekitar 20 meter.
Teriakan memberi semangat kepada puluhan tukik tersebut untuk mencapai lautan menambah acara pelepasan tukik menjadi meriah.
"Turis tersebut merasa sangat puas melihat momen yang langka. Banyak diantara mereka merupakan pengalaman pertamanya apalagi anak-anak dan mereka akan memperlihatkan dokumentasi yang langka tersebut kepada rekan-rekannya setelah kembali ke negara mereka masing-masing," kata Henry.
Henry mengatakan anak penyu yang baru menetas tersebut mempunyai berat sekitar 15 gram, jauh lebih ringan dari telurnya yang mencapai berat 25 gram saat ditanam di pasir dengan kedalaman sekitar 50 cm untuk ditetaskan lebih kurang 50 sampai 60 hari.
Penyu menurut dia sekali bertelur bisa sampai 150 butir, setelah terlebih dahulu menjelajahi samudera selama 30 tahun.
"Berdasarkan perkiraan para ahli, tukik yang dilepas hanya mampu bertahan sampai dewasa sekitar 1 persen," katanya.
Dipindahkannya telur ke dalam tempat penetasan, menurut dia hanya untuk mengamankan telur sebelum menetas, karena hingga saat ini masih banyak masyarakat memakannya, bahkan menjualnya di pasar.
"Binatang seperti babi liar dan biawak juga sangat menyukai telur penyu" ujarnya. (ANT-028/Btm1)
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
