
Disperindag Tanjungpinang Libatkan Bulog Atasi Harga Beras

Tanjungpinang (ANTARA News) - Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, akan melibatkan Bulog untuk mengatasi kenaikan harga beras.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Tanjungpinang, Efiar M Amin, Sabtu 30 Oktober 2010, mengatakan, Bulog diminta melakukan operasi pasar untuk meringankan beban masyarakat karena harga beras tidak dapat dikendalikan.
"Tanjungpinang bukan merupakan daerah penghasil beras, karena itu sulit mengendalikan harganya," ungkap Efiar.
Ia mengatakan, beras yang dikonsumsi masyarakat Tanjungpinang berasal dari Pulau Jawa dan Sumatra Barat. Saat ini, persediaan beras mencukupi, meski harganya mengalami kenaikan yang tinggi.
Pedagang di Tanjungpinang menjual beras dengan harga Rp150.000-250.000 per karung (20 kg). Harga beras diperkirakan terus mengalami kenaikan karena sebagian daerah penghasil mengalami gagal panen.
"Beras Bulog itu layak dikonsumsi masyarakat, meski kualitasnya kurang bagus dibanding beras beragam merek yang dijual pedagang," ungkapnya.
Kenaikan harga beras bukan disebabkan permainan harga yang dilakukan oleh spekulan, melainkan biaya transportasi yang besar dari daerah penghasil ke Tanjungpinang. Cuaca yang buruk, seperti sekarang ini, membuat biaya transportasi membengkak, karena sebagian kapal tidak berani berlayar.
"Tidak ada spekulan beras. Harganya itu sudah mengalami kenaikan di daerah penghasil," katanya.
Sementara Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kepulauan Riau Syed Muhamad Taufik, mengatakan, Bulog memiliki peranan besar dalam mengatasi permasalahan persediaan dan kenaikan harga beras.
"Pemerintah daerah baik di Tanjungpinang maupun Kabupaten Bintan itu hanya mengurus permasalahan yang bersifat administrasi, karena hanya Bulog yang memiliki persediaan beras untuk memenuhi kebutuhan masyarakat," ungkapnya.
Ia juga akan mengupayakan agar pemerintah pusat mengizinkan pemerintah daerah mengimpor beras dari beberapa negara tetangga. Namun, upaya itu akan dibatalkan jika harga beras impor lebih tinggi dari beras dalam negeri.
"Kami memiliki tim yang bertugas mengawasi persediaan beras dan harga yang dijual pedagang, ujarnya. (ANT-NP/M012/Btm1)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
