
Karimun Siaga Flu Burung

Karimun, (ANTARA News) - Kantor Kesehatan Pelabuhan Tanjung Balai Karimun, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau menyatakan siaga virus flu burung atau H5N1 menyusul terjangkitnya virus tersebut terhadap ribuan unggas di lima desa di Kabupaten Lingga baru-baru ini.
''Ada atau tidak ancaman flu burung, kami tetap siaga mengantisipasi masuknya berbagai penyakit melalui pelabuhan,'' kata Kepala Seksi Karantina dan Survailans Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Tanjung Balai Karimun Rizaldi, di Tanjung Balai Karimun, Sabtu 12 Maret 2011.
Rizaldi menuturkan, KKP saat ini mempunyai 12 tim medis, terdiri atas dua dokter dan sepuluh perawat yang siaga di pelabuhan. Ke-12 tim medis itu bertugas bergiliran, masing-masing enam orang untuk satu shift yang bertugas sepanjang hari.
''Kami mendengar ribuanunggas di Lingga terjangkit flu burung. Untuk itu, petugas di lapangan siaga penuh,'' ucapnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kepulauan Riau Tjetjep Yudiana menyatakan, ribuan unggas di lima desa di Kabupaten Lingga positif terjangkit flu burung.
Lima desa tersebut masing-masing Desa Tanjung Harapan, Bukit Kabung, Telek, Dabo Lama dan Skop Laut.
Tjetjep mengatakan, berdasarkan pemeriksaan atau ''repti test'' terhadap 53 sampel unggas di lima desa tersebut, lebih dari 50 persen positif terjangkit virus H5N1.
Unggas-unggas yang terjangkit virus H5N1 tersebut diduga berasal dari Jambi, kata Tjetjep.
''Berhubung ada kapal jurusan Tanjung Balai Karimun-Kuala Tungkal, Jambi. Maka, kami juga memperketat pemeriksaan untuk kapal-kapal jurusan tersebut,'' ucap Rizaldi.
Lebih lanjut dikatakannya, sampai saat ini belum ada temuan kasus flu burung yang masuk melalui pelabuhan domestik maupun domestik.
Secara terpisah, KepalaStasiun Karantina Pertanian Tanjung Balai Karimun, Yoeyoen Marrahayoeni mengatakan, kegiatan pencegahan flu burung dilakukan dengan memperketat pemeriksaan dokumen dan fisik hewan, terutama ayam dan unggas yang masuk ke Tanjung Balai Karimun.
''Apabila dokumennya lengkap, baru kita lanjutkan dengan pemeriksaan fisik dengan melihat langsung kondisi hewan. Jika sehat, baru dilanjutkan dengan menyemprotkan cairan ''desinfektan''. Penyemprotan ini langsung dilakukan di ponton pelabuhan,'' katanya.
Setelah itu, lanjut Yoeyoen, dilanjutkan dengan pengujian atau rapid test untuk mendeteksi apakah unggas tersebut terinfeksi H5N1.
''Setelah dinyatakan negatif, baru unggas tersebut diperbolehkan untuk masuk ke Karimun,'' katanya menambahkan.
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
