Logo Header Antaranews Kepri

Batam Diguyur Hujan Suhu Panas Sementara Mereda

Selasa, 10 Mei 2011 09:31 WIB
Image Print

Batam (ANTARA News) - Sebagian Kota Batam, Kepulauan Riau, Selasa pukul 07.45 WIB hujan dan sementara menurunkan suhu udara yang dalam beberapa hari ini berkisar 32-35 derajat celsius akibat anomali dari peralihan musim.

Hingga sekitar pukul 09.00 WIB, hujan antara lain terjadi di Nongsa, Jodoh, Nagoya, Bengkong, Batam Kota dan di Sekupang disertai dengan gemuruh guntur.

Agus Salim Lacuda, kepala seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Stasiun Hang Nadim Batam, mengatakan, hujan hari ini tidak merata dan belum terjadi di daerah Pulau Rempang dan Galang.

Hujan pagi hari cukup membantu menurunkan suhu udara Batam yang sejak Jumat pekan lalu menyengat ubun-ubun hingga pening baik ketika di luar maupun di dalam gedung yang tidak berpengatur hawa.

Suhu normal Kota Batam antara 22 hingga 29 derajat celcius, tetapi dalam beberapa hari ini pernah mencapai sekitar 32 hingga 35 derajat celcius

Peningkatan suhu berlebihan bila disebut ekstrem, tetapi yang pasti adalah anomali, dan tidak terjadi saban pergantian musim, kata Agus.

Gejala anomali hawa udara membuat warga seperti Deden J, penduduk Mitra Raya dan Lorensius Tan penduduk Bengkong Kolam, merasa seperti sedang di ruang sauna ketika di kamar tidur pada pukul 02.00 WIB.

"Kasur pun basah meski ruangan sudah dicoba diteduhkan dengan kipas angin," kata Deden.

Sekujur badannya berkeringat seperti di ruang sauna sehingga pada tengah malam ia dan beberapa orang tetangga 'ngangin' di luar rumah.

Menurut Kepala BMKG Stasiun Bandara Hang Nadim, hawa panas di Batam akan terjadi hingga awal Juni 2011.

Kurun hingga awal Juni berpotensi puting beliung terutama bila terjadi penumpukan awan di tempat tinggi.

"Hari ini penumpukan awan terjadi di daerah rendah sehingga potensi puting beliung bisa dikatakan kecil," ujar Agus.

Batam dan umumnya Kepri merupakan wilayah perairan laut sehingga pada musim kemarau pun bisa diselingi hujan akibat penguapan dan pembentukan awan.

"Hujan pada hari ini adalah efek dari penguapan air laut dan pembentukan awan," kata Agus.

Gejala alam ini khas wilayah kepulauan, katanya.

Lepas dari anomali suhu udara tinggi, ia mengingatkan beberapa wilayah Kepri terutama mulai Juni hingga Agustus berpotensi mendapat kiriman kabut asap kebakaran hutan dan lahan dari daratan Sumatra.

Angin pada bulan-bulan itu dari selatan atau dari arah Australia dan Samudra Hindia dan biasanya pada waktu itu di beberapa wilayah daratan Sumatra banyak kebakaran hutan dan lahan.

(Btm1)



Pewarta :
Editor: Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026