Logo Header Antaranews Kepri

Penduduk Miskin Kepri Capai 129.056 Orang

Jumat, 1 Juli 2011 13:42 WIB
Image Print

Tanjungpinang (ANTARA News) - Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Riau menyatakan jumlah penduduk miskin di wilayah tersebut pada Maret 2011 mencapai 129.056 orang.

"Persentase penduduk miskin di Kepri (Kepulauan Riau) tercatat 7,4 persen pada Meret 2011, sedangkan Maret 2010 mencapai 8,05 persen," kata Kepala Badan Pusat Statistik Kepri, Syafril Said, Jumat, di Tanjungpinang.

Sedangkan jumlah penduduk miskin di pedesaaan, kata dia turun sebanyak 39.380 orang yaitu dari 62.590 orang pada Maret 2010 menjadi 23.210 orang pada Maret 2011. Namun jumlah penduduk miskin daerah perkotaan naik dari 67.080 orang menjadi 106.350 orang.

Penurunan jumlah dan persentase penduduk miskin selama Maret 2010 - Maret 2011 disebabkan harga barang kebutuhan pokok masyarakat selama periode tersebut cukup stabil, sebagaimana digambarkan inflasi umum sebesar 6,39 persen.

Sementara peningkatan penduduk miskin di kota, Kepri, disebabkan kenaikan harga kebutuhan dasar bukan makanan, seperti perumahan, angkutan dan bensin yang cukup tinggi.

"Akibatnya, penduduk tergolong tidak miskin namun penghasilannya berada disekitar garis kemiskinan banyak bergeser posisinya menjadi miskin," ungkapnya.

Syafril mengungkapkan, kondisi penduduk miskin dipengaruhi oleh garis kemiskinan, karena penduduk miskin adalah penduduk memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan.

Selama Maret 2010 - Maret 2011 penduduk digaris kemiskinan turun sebanyak 0,01 persen yaitu dari Rp295.95 per kapita per bulan pada 2010, menjadi Rp291.693 per kapita per bulan pada 2011.

Daerah perkotaan, kata dia, garis kemiskinan naik sebesar 0,08 persen yaitu dari Rp321.668 per kapita per bulan pada tahun 2010, menjadi Rp350.828 per kapita per bulan pada 2011.

Sementara untuk daerah pedesaan garis kemiskinan naik sebesar 0,09 persen yaitu dari Rp265.258 per kapita per bulan pada tahun 2010, menjadi Rp291.693 per kapita per bulan pada 2011.

"Dengan memperhatikan komponen garis kemiskinan terdiri makanan dan bukan makanan, maka terlihat peranan komoditas makanan jauh lebih besar dibanding peranan komoditas bukan makanan," ungkapnya.

Peranan garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan lebih besar pada 2010 yaitu dari 69,72 persen menjadi 67,55 persen. Untuk daerah pedesaan peranan garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan menurun dari 75,81 persen menjadi 74,52 persen.

"Sedangkan untuk daerah perkotaan, peranan garis kemiskinan makanan sedikit meningkat dari 66,11 persen menjadi 66,2 persen," ujarnya.

Syafril mengatakan, komoditas terpenting dibutuhkan masyarakat Kepri adalah beras. Pada Maret 2011, sumbangan pengeluaran beras terhadap garis kemiskinan sebesar 33,5 persen di pedesaan dan 27,95 persen di perkotaan.

Selain beras, lanjutnya, barang-barang kebutuhan pokok seperti rokok filter, gula pasir, mie instan dan telur juga memberi pengaruh yang besar terhadap garis kemiskinan.

Sedangkan untuk komoditas bukan makanan, biaya perumahan memiliki peranan yang cukup besar terhadap garis kemiskinan yaitu 31,80 persen di pedesaan dan 33,2 persen di perkotaan.

"Biaya listrik, bensin dan angkutan juga berpengaruh besar terhadap masyarakat yang tinggal di kota dan desa," katanya.(ANT-NP/K005/Btm2)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026