
Menasional Lewat Batik di Perbatasan

Beberapa tahun yang lalu, pasar mode Batam, Provinsi Kepulauan Riau dikuasai baju-baju Melayu Malaysia dengan bahan sutra dan katun, namun kini, seiring dengan rasa nasionalisme yang meningkat, batik menjadi pakaian favorit masyarakat perbatasan.
Sebelum batik ditetapkan sebagai warisan kebudayaan dunia Oktober 2010, para pedagang busana Batam sengaja berbelanja ke negeri jiran, berbelanja berbagai pakaian khas Malaysia seperti baju kurung dan baju koko untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Di berbagai sudut kota, juga tampak beberapa orang mengenakan pakaian adat Melayu khas Malaysia. Yang perempuan memakai baju kurung panjang dengan lipatan khas di sisi kiri dan kanan, lengkap dengan rok dan jilbab gaya Malaysia. Sedang para lelaki mengenakan baju koko berbahan sutera panjang,
"Dulu, saya belanja ke Singapura atau Johor sebulan dua kali, karena memang baju khas Malaysia yang laku di sini," kata pedagang Pasar DC Mal, Yudhi.
Setiap ke Singapura atau Johor, Malaysia, Yudhi membeli pakaian berlusin-lusin untuk memenuhi keinginan pasar.
Menurut Yudhi, selain karena trend, baju Melayu lebih laku ketimbang model lainnya karena Pemerintah Kota Batam mewajibkan pegawainya mengenakan baju daerah sekali setiap pekan.
Kewajiban mengenakan baju Melayu membuat masyarakat lain, yang bukan pegawai negeri sipil tertarik untuk memakai pakaian serupa, terutama setiap hari Jumat.
"Pernah saya coba bawa baju Melayu dari Bukittinggi. Maksud saya, biar ada variasi dagangan, ternyata tidak laku, orang-orang tetap maunya baju Melayu Malaysia," kata Yudhi.
Hal senada diungkap pedagang DC Mal lainnya, Zulfandi. Ia mengatakan dulu baju-baju dari Jakarta atau Bandung tidak terlalu laku dibandingkan pakaian yang dibawa dari Malaysia.
"Untuk ibu-ibu, yang laku tetap baju Malaysia. Kecuali baju ABG, itu dari Bandung. Tapi, ABG tidak sering belanja, yang banyak beli baju itu ibu-ibu. Jadi terpaksa kami belanja ke Malaysia juga, supaya uang berputar terus," kata dia.
Lain dulu, lain sekarang. Sejak Batik ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco, batik mulai menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Yudhi, Zufandi dan banyak pedagang pakaian lainnya beralih menjual batik.
"Hampir 90 persen, atau malah 100 persen pedagang yang dulu jualan baju Malaysia sekarang jual batik," kata Zulfandi.
Ia mengatakan batik menjadi kegemaran warga Batam. Omset penjualan batiknya pun mencapai satu juta rupiah setiap hari.
Apalagi, kata dia, semenjak Pemerintah Kota Batam mewajibkan pegawainya mengenakan batik setiap hari Kamis, semakin banyak orang yang berbondong-bondong membeli baju dengan kain batik.
Batik ASEAN
Ketua Kamar Dagang dan Industri Kota Batam Nada Faza Soraya adalah salah satu pecinta batik, yang dulunya kerap mengenakan
baju khas Melayu Malaysia di berbagai kesempatan.
"Dulu memang suka pakai baju Melayu Malaysia, tapi sekarang, saya lebih suka pakai batik. Lebih Indonesia," kata Nada.
Menurut dia, mengenakan batik merupakan satu bukti rasa nasionalis yang besar.
"Cuma Indonesia yang punya batik, sudah seharusnya kita mengenakan batik sebagai rasa kebanggaan menjadi warga Indonesia," kata Nada.
Kini, Nada menjadi kolektor batik. Segala macam batik khas daerah-daerah Indonesia ia miliki. Bahkan karena kecintaannya kepada batik, Nada bersama Yayasan Batik Indonesia dan Yayasan Kadin Indonesia berupaya agar Batam ditetapkan sebagai pusat perdagangan batik ASEAN.
Meskipun Batam tidak memiliki industri batik, namun ia optimis, rasa cinta tanah air warga perbatasan yang besar akan mensukseskan penetapan Batam sebagai pusat perdagangan batik ASEAN.
"Lihat saja, sekarang orang di mana-mana pakai batik. Bule pun yang tinggal di Batam suka pakai batik," kata dia.
Batik Batam
Seiring dengan penetapan Batam sebagai Pusat Perdagangan Batik ASEAN, Pemerintah Kota Batam mendorong berdirinya industri batik.
Meskipun memiliki sumber daya air yang sedikit untuk menopang industri garmen, namun pemerintah kota optimis dapat membangun komunitas batik di perbatasan.
Pemerintah Kota Batam mengembangkan batik kontemporer sebagai kreasi dan oleh-oleh khas daerah itu. Batik kontemporer dibuat dengan teknik tulis dan cap yang dipusatkan di Gedung Lembaga Adat Melayu.
"Kami mengembangkan batik kontemporer dengan warna-warna cerah," kata Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Energi dan Sumber Daya Mineral Kota Batam Ahmad Hijazi.
Ia mengatakan batik kontemporer dengan bahan katun amat cocok untuk Batam yang panas. Selain itu, motif batik kontemporer yang santai juga dikatakan sesuai dengan gaya masyarakat Melayu Kota Batam.
Batik kontemporer, kata dia, juga sangat diminati wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Pulau Kalajengking.
Menurut Kepala Dinas, batik dengan motif kontemporer tidak kaku dan luwes sehingga diminati wisman.
Staf Ahli Menteri Perdagangan Fauzi mengatakan batik kontemporer yang sedikit menyerupai baju khas Hawaii sangat diminati wisman.
Fauzi juga mengatakan kagum dengan motif batik khas Batam yang berbentuk beragam gonggong.
"Motifnya bagus, sangat khas, berbeda dengan kota lain," kata dia.
Meski bukan motif turun temurun, kata dia, namun batik Batam sangat unik.
Menurut dia, motif batik tidak perlu diwariskan turun temurun, melainkan diciptakan dengan kreasi kekhasan masing-masing daerah.
"Batik itu selalu unik, dan motifnya selalu berkembang dari yang dulu-dulu," kata dia.
Oleh-oleh
Sementara itu, seiring dengan perkembangan batik di Batam, kini kain yang dibuat dengan teknik tulis menggunakan lilin itu menjadi oleh-oleh khas Batam.
Jika dulu, pedagang Batam yang berbelanja baju Melayu Malaysia ke negeri jiran, maka kini wisatawan manca negara yang menjadikan batik sebagai buah tangan.
"Saya sangat suka batik, motifnya bervariasi dan cantik," kata warga Malaysia Nadya Ulamah.
Menurut dia, Malaysia juga mengembangkan batik, namun tidak sama dengan batik Indonesia yang diperdagangkan di Batam.
"Batik di sini lebih eksklusif, karena di buatnya ditulis, jadi tidak mungkin ada yang sama persis," kata dia.
Nadya mengaku setiap ke Batam membeli beberapa baju batik untuk dijual kepada kawan-kawannya di Kuala Lumpur.
"Saya tidak jualan macam toko, hanya kepada teman-teman yang menitip saja," kata dia.
Selain warga Malaysia, warga Singapura Kholila mengaku juga amat menyukai batik.
Terutama pakaian rumahnya (daster-red), tidak panas dan murah," kata dia.
(ANT-YJN/J006/Btm1)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
