
Impor Telur Bisa Stabilkan Harga di Batam

Batam (ANTARA News) - Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Energi Sumber Daya Mineral Kota Batam Ahmad Hijazi mengatakan impor telur perlu dilakukan agar menyetabilkan harga karena hingga saat ini Batam hanya bisa memenuhi 10 persen kebutuhan telur.
"Pemerintah Kota (Pemkot) Batam telah mengajukan permintaan impor telur dari Malaysia. Namun sampai saat ini belum disetujui pusat," kata Hijazi.
Menurut Hijazi, selama ini yang menjadi dasar Kementerian Pertanian menolak permintaan impor telur dari Malaysia karena jumah produksi telur nasional masih dapat memenuhi kebutuhan nasional sehingga menganggap impor telur bagi Batam belum diperlukan.
"Impor telur dari Malaysia merupakan upaya untuk menekan harga telur yang kenaikannya dapat berimbas pada kenaikan angka kebutuhan hidup layak (KHL) di Batam," kata dia.
Ia pun yakin jika impor telur ini disetujui tidak akan memengaruhi produksi dan pasokan telur secara nasional lantaran lokasi Batam yang tidak mudah dijangkau pasokan produsen telur dalam negeri dan telur impor tersebut tidak akan keluar dari Batam.
"Apalagi selama ini pasokan dari Medan Sumatra Utara yang diandalkan untuk mencukupi kebutuhan di Batam banyak mengalami kendala. Selain itu, ongkos kirim yang tinggi membuat harga telur dari Medan mahal saat sampai di Batam," jelas Hijazi.
Pemkot Batam, kata Hijazi akan menemui Kementerian Pertanian dan Perdagangan untuk menjelaskan tentang keadaan di Batam yang sebenarnya agar izin impor telur untuk Batam disetujui.
"Besok kami akan ke Jakarta untuk meminta klarifikasi Menteri Pertanian dan akan meminta izin khusus karena Batam tidak sama dengan daerah lain," kata dia.
Kepala Dinas Kelautan Perikanan Peternakan dan Kehutanan (KP2K) Kota Batam Suhartini mengatakan berdasarkan usulan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Batam akan mengimpor 5.500 ton telur setiap bulan.
"Permohonan ini sudah disampaikan langsung ke Menteri Perdagangan dan Menteri Pertanian, dan tinggal menunggu persetujuan pusat," kata Suhartini.
Dalam surat permohonan tersebut, berisi permintaan impor telur ke kawasan bebas Batam Bintan Karimun di Kepri sebanyak 7.500 ton per bulan.
"Rinciannya Batam 5.500 ton, Bintan dan Karimun masing-masing 1.000 ton," tambahnya.
Saat ini, kata Suhartini harga telur eceran per butir di Kota Batam kini mencapai Rp1.100 hingga Rp1.200. Kenaikan harga ini dipicu minimnya pasokan telur dari Medan.
(ANT-L/A013/Btm1)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
