
Pelajar Perbatasan di Bintan dapat Bea Siswa

Bintan (ANTARA Kepri) - Puluhan pelajar SMA kurang mampu di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, mendapatkan bea siswa dari Komunitas Merah Putih.
Acara penyerahan bea siswa tersebut dilakukan di sela-sela sarasehan bertema Merajut Silahturahim Komponen Masyarakat Bangsa di Kecamatan Telok Sebong, Kabupaten Bintan Sebagai Garda Terdepan Wilayah Perbatasan, Selasa.
"Bea siswa ini diberikan berdasarkan rekomendasi pihak sekolah guna memacu semangat pelajar untuk meningkatkan prestasi dan turut berperan dalam menjaga Indonesia di kawasan perbatasan," ujar Ketua Komunitas Merah Putih, Suprapto.
Sarasehan yang digelar pertama kali oleh Komunitas Merah Putih di Bintan diikuti oleh pegawai, pelajar dan mahasiswa se-Pulau Bintan (Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan).
Narasumber dalam acara tersebut adalah Kepala Kesbangpolinmas Bintan M Hendri, Ketua MUI Bintan Manimpo Simamora, Kepala Imigrasi Tanjunguban Wisnu Arianja, Kasat Bimas Polres Bintan AKP Irwandi, dosen Universitas Maritim Raja Ali Haji Trisno Aji Putra dan Kepala Bidang Pembangunan Infrastruktur Badan Pengelola Perbatasan Kepri Hendrija.
Kegiatan tersebut bertujuan membangun kesadaran bersama untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya kepentingan asing yang masuk ke Indonesia melalui Bintan. .
Salah satu permasalahan yang perlu diwaspadai bersama, menurut dia, adalah masuknya budaya asing di Bintan, yang dibawa oleh pekerja asing yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan Melayu.
"Di Bintan banyak perusahaan asing, dan tenaga kerja asing. Kami memahami daerah membutuhkan investasi, tetapi pemerintah dan masyarakat juga harus waspadai terhadap segala sesuatu yang dapat mengancam Indonesia," ujarnya.
Ia mengemukakan, sarasehan sengaja digelar di Telok Sebong, karena pemerintah telah menetapkan kecamatan itu sebagai kawasan prioritas pengelolaan pembangunan.
Di Kabupaten Bintan sendiri, ada empat kecamatan yang masuk dalam Lokpri tersebut. Alokasi anggaran untuk empat kecamatan itu mencapai sekitar Rp650 miliar.
Dalam acara tersebut juga dibahas tentang permasalahan lingkungan yang menjadi salah satu isu menarik di kawasan perbatasan.
"Kampung kami di Berakit sering mengalami pencemaran laut akibat limbah minyak dari kapal. Ini sangat mengganggu kehidupan nelayan," ungkap H Abdul Jamal, seorang warga Desa Berakit yang menjadi peserta sarasehan tersebut.
Terkait persoalan itu, Kepala Bidang (Kabid) Pengelola Infrastruktur Badan Pengelola Perbatasan (BPP) Provinsi Kepri, Hendrija, mengatakan, persoalan pencemaran lingkungan juga masuk dalam kajian wilayah perbatasan. Namun masalah yang dihadapi, karena keterbatasan sumber daya serta sarana prasarana, hal tersebut belum bisa tertangani saat ini.
Sementara itu, Manimpo Simamora, Ketua MUI Bintan yang sekaligus Ketua Komisi I DPRD Bintan, mengatakan, permasalahan tersebut adalah bidang kerja Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bintan.
"BLH juga menjadi mitra kerja Komisi I DPRD Bintan. Namun kendalanya adalah teknologi dan penunjang peralatan yang belum memadai untuk mengatasi persoalan itu, " kata Manimpo.
Sementara Trisno Aji Putra mengungkapkan, pendekatan pembangunan perbatasan saat ini sudah berpola perpaduan antara keamanan dan kesejahteraan.
"Karena itu, seluruh pulau dan kecamatan perbatasan akan dibangun menjadi daerah yang maju. Tentu peluang besar ini harus dimanfaatkan oleh masyarakat perbatasan," kata Trisno Aji.
(KR-NP/N001)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
