
Pengamat: PDIP Harus Waspadai Manuver Politik Golkar

Tanjungpinang (ANTARA Kepri) - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan harus mewaspadai menuver politik Partai Golkar menjelang Pilkada Tanjungpinang, kata pengamat politik, Suradji, yang juga staf pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Maritim Raja Ali Haji, Sabtu.
"Penolakan DPD Partai Golkar Tanjungpinang untuk berkoalisi dengan PDIP dan mengusung Lisdarmansyah-Sahrul merupakan manuver politik yang perlu diwaspadai PDIP," kata Suradji yang juga Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Kebijakan Publik dan Politik Lokal (LK2PPL).
Ia mengungkapkan, sikap politik pengurus Partai Golkar Tanjungpinang mengejutkan berbagai pihak, karena bertentangan dengan sinyalemen yang dibangun oleh Ketua DPD Golkar Kepulauan Riau (Kepri), Ansar Ahmad.
Ansar sebelumnya menginginkan Golkar berkoalisi dengan PDIP dan mengusung Lisdarmansyah-Sahrul. Lis Darmansyah saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kepri dari PDIP, sedangkan Sahrul sebagai Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia Tanjungpinang.
Penolakan tersebut patut dicurigai, karena Ketua DPD Partai Golkar Tanjungpinang, Ade Angga, merupakan kader militan yang merupakan "anak emas" Ansar Ahmad.
"Kondisi yang terjadi ini tidak rasional jika Ade Angga mengambil keputusan tanpa seizin dari Ansar Ahmad," ujarnya.
Ade Angga beralasan penolakan itu untuk kepentingan 2014, karena Partai Golkar akan sulit berkembang jika berkoalisi dengan PDIP, sementara calon wakil wali kota yang mendampingi Lis bukan dari kader internal Golkar. Pengurus Partai Golkar Tanjungpinang justru memberi sinyal lebih tertarik mengusung Maya Suryanti sebagai calon wali kota karena berasal dari nonpartai.
Meski demikian Maya sejak akhir 2011 sudah diusung dan dideklarasikan Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Persatuan Pembangunan.
Manuver yang dilakukan pengurus Golkar Tanjungpinang, menurut dia, dicurigai tidak hanya memuat kepentingan politik untuk Pemilu 2012. Kemungkinan strategi yang dibangun Partai Golkar berhubungan dengan kepentingan untuk menaikkan harga jual partai.
"Dengan kondisi itu, tidak hanya kubu Lis yang harus waspada, melainkan juga kubu Maya, karena Golkar cukup jeli dalam mengambil peluang. Dengan membuat pernyataan yang bertolak belakang antara Ketua DPD Partai Golkar Ansar Ahmad dengan Ketua DPD Partai Golkar Tanjungpinang Ade Angga, maka partai itu berharap dapat keuntungan," ujarnya.
Jika keputusan politik Partai Golkar Tanjungpinang dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan alasannya, maka saat ini Golkar menginginkan kadernya yang mendampingi Lis Darmansyah, bukan Sahrul.
Argumen seperti ini sangat mungkin diambil Partai Golkar mengingat bahwa pertarungan dalam Pemilu Legislatif 2014 dan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Kepri 2015 sudah semakin dekat sehingga dibutuhkan energi yang cukup besar.
Apalagi, yang dihadapi Partai Golkar dalam dua pemilihan umum tersebut adalah partai yang selama ini menjadi kompetitor sejati yaitu PDIP.
"PDIP di Kepri saat ini memegang peran yang sangat strategis yaitu sebagai wakil gubernur. Dengan posisi strategis seperti itu maka diyakini bahwa PDIP akan mudah mengumpulkan energi dalam menghadapi dua pesta demokrasi yang akan datang," katanya. (KR-NP/H-KWR)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
