Logo Header Antaranews Kepri

Pertamina Impor BBM Untuk Kepri

Senin, 21 Mei 2012 16:19 WIB
Image Print

Batam (ANTARA Kepri) - PT Pertamina (Persero) mengimpor bahan bakar minyak untuk memasok kebutuhan warga Provinsi Kepulauan Riau.

"Memang ada yang diimpor," kata Humas Pertamina Wilayah Sumatera Bagian Utara, Erika di Batam, Senin.

Pasokan BBM untuk wilayah Kepri sebagian berasal dari pasokan lokal dan sebagian lagi diimpor. Namun Erika enggan menjelaskan persentase BBM impor yang beredar di Kepri.

"Itu wilayah korporat, saya tidak bisa menjawab," kata dia.

Sementara itu, Manajer Penjualan Pertamina Wilayah Kepulauan Riau, I Ketut Permadi mengatakan kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) tahun 2012 untuk Batam mengalami penurunan dibandingkan kuota tahun sebelumnya.

Pada 2012, kuota premium untuk Batam 135,352 kiloliter menurun dibanding 2011 sebanyak 186.571kl.

Angka itu, kata dia, berdasarkan penetapan APBN.

Sedangkan kuota BBM untuk Kepri tahun 2012, jenis premium 234,297 kilo liter, solar 190,044 kilo liter dan minyak tanah 36,199 kilo liter.

Sementara itu, PT Pertamina wilayah Kepulauan Riau dan Pemerintah Kota Batam sepakat mengalihkan sebagian bahan bakar minyak jenis premium bersubsidi untuk sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) daratan ke agen penyalur minyak bersubsidi di pesisir.

Sales Representatif BBM Ritel PT Pertamina area Kepulauan Riau (Kepri), Teuku Desky Arifin pengalihan BBM itu untuk nelayan dan masyarakat pesisir yang selama ini kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

"Intinya kami ingin memberikan kuota pada masyarakat pesisir yang selama ini mengalami kesulitan agar lebih mudah mendapatkan BBM bersubsidi dengan harga tidak jauh berbeda dengan masyarakat yang berada di pulau utama," kata Teuku.

Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Energi Sumber Daya Mineral (Disperindag dan ESDM) Kota Batam, Ahmad Hijazi menaksir kebutuhan masyarakat pesisir Batam mencapai 720 kilo liter per bulan.

"Saat ini premium bersubsidi yang disalurkan hanya sekitar 320 kilo liter per bulan. Jadi masih jauh dari kuota yang dibutuhkan," kata dia.

Selain premium, kata dia, pasokan solar bersubsidi untuk nelayan juga perlu ditambah sekitar 200 kilo liter per bulan.(Y011/Y008)

Editor: Dedi




Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026