Logo Header Antaranews Kepri

Bagi Hasil Migas Kepri Diprediksi Meningkat

Minggu, 27 Mei 2012 19:42 WIB
Image Print

Batam (ANTARA Kepri) - Dana Bagi Hasil Minyak dan Gas Bumi untuk Provinsi Kepulauan Riau dan kabupaten kota di dalamnya diprediksi meningkat seiring kenaikan harga jual gas ekspor Kepri yang naik 90 persen.

"DBH juga akan naik kalau harga jual gasnya naik," kata anggota DPR RI Harry Azhar Azis di Batam, Minggu.

Jika besaran Dana Bagi Hasil (DBH) minyak dan gas sama, maka diperkirakan DBH Kepri meningkat 50 persen, kata dia.

"Saya tidak tahu persis angka DBH Natuna dan Kepri, tapi kenaikannya lumayan," kata Harry.

Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Kepulauan Riau itu mengatakan harapan alokasi anggaran kenaikan DBH bisa digunakan untuk infrastruktur seperti pembangunan jembatan, jalan dan pelantar.

"Setelah itu baru listrik dan air," katanya.

Harry juga berharap pemerintah lebih transparan kepada pemerintah daerah mengenai data lifting minyak dan gas bumi.

Selama ini, kata dia, BP Migas menolak memberikan data.

"Selama ini daerah hanya disuruh tandatangan untuk menerima DBH, tapi angka pastinya tidak diberi tahu," ujarnya.

Harga jual ekspor gas dari Anambas, Provinsi Kepulauan Riau ke Duyong, Malaysia, naik sekitar 90 persen dari 3,1 dolar AS per mmbtu menjadi enam dolar AS per mmbtu.

Gas bumi asal Anambas dikelola Conoco Philips. Perusahaan itu menjual gas ke Petronas Malaysia.

Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas, BP Migas Gde Pradnyana, mengatakan harga gas dari Anambas, Kepulauan Riau ke Duyong, Malaysia itu naik signifikan. Dengan kenaikan harga tersebut, pemerintah Indonesia memperoleh tambahan pendapatan negara sekitar Rp9 triliun selama periode 2012-2022.

ConocoPhilips menjual gas ke Petronas sejak 2002 dari Natuna Blok B dengan volume kontrak 263 miliar british thermal unit per hari (bBtud).

Ia mengatakan BP Migas berupaya memperbaiki harga gas baik untuk ekspor maupun untuk dalam negeri.

"Kami intensif mendorong perbaikan harga gas ekspor maupun domestik," kata Gde.

Peningkatan harga itu, kata dia, untuk meningkatkan penerimaan negara dan menggiatkan kegiatan operasi migas, khususnya di lapangan-lapangan gas marginal yang selama ini belum dikembangkan.

"Investor akan lebih tertarik karena harganya bersaing," katanya. (Y011/R010)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026