
HM Sani Bergerak Merangkai Pulau

SECARA geografis Provinsi Kepulauan Riau terdiri dari 96 persen lautan dan hanya 4 persen daratan yang berbatasan langsung dengan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Vietnam dan Kamboja.
Daratan yang hanya 4 persen itu terdiri dari 2.408 pulau besar dan kecil. Dari ribuan pulau yang berserak dari Selat Berhala hingga Laut Cina Selatan itu hanya 1.350 pulau yang berpenghuni dan bernama sedangkan sisanya belum berpenghuni dan tidak bernama. Dengan luas wilayah 251.810,71 kilometer persegi wilayah provinsi ini terletak pada laluan transportasi laut dan udara yang strategis dan terpadat di dunia.
Menghadapi kondisi daerah kepulauan yang amat unik dan kaya dengan sumber daya alamnya inilah Gubernur Kepulauan Riau Muhammad Sani bergerak merangkai pulau, menyatukan dan mendekatkan masyarakatnya agar tidak lagi terisolasi tapi merasakan kemajuan dengan memanfaatkan geografis daerah yang berada di bibir pasar dunia.
"Melakukan pembangunan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan apatah lagi rencana-rencana untuk perubahan telah dijanjikan dulu saat kampanye, tentu ditagih masyarakat," ungkap Sani saat ditemui usai kunjungan kerja di Kabupaten Natuna awal pekan lalu.
Memasuki tahun kedua masa kepemimpinannya Sani yang rajin mengunjungi masyarakatnya dari pulau ke pulau itu mengaku tetap fokus pada rencana awal pembangunannya yakni infrastruktur, pendidikan dan kesehatan.
"Di bidang infrastruktur tidak terlepas dari konsep NAL (Natuna-Anambas-Lingga), yakni menggesa terus menerus penyediaan transportasi baik di laut maupun udara," katanya.
Karena wilayah Kepulauan Riau ini terdiri dari perairan laut maka konsep pertamanya adalah bagaimana menghubungkan antara satu pulau dengan pulau lainnya, agar menjadi lebih lancar. Saat ini pulau-pulau itu sudah tersambung tapi kualitasnya masih belum memadai karena masih lamanya rentang waktu penghubung dengan rata-rata jadwalnya antara 10 hari sampai 15 hari sekali sebulan.
Seharusnya, dengan transportasi laut yang memadai maka pulau-pulau yang letaknya tersebar itu dapat terhubungkan paling tidak frekuensi kapal tujuh hari sekali.
"Jika transportasi lancar tentu tidak ada daerah yang terisolasi. Lancarnya transportasi merupakan prioritas pembangunan di daerah ini," ujar Gubernur.
Sedangkan untuk transportasi udara dengan membuka lapangan terbang perintis dan lapangan terbang yang telah ada seperti di Ranai, Natuna bakal diperluas agar pesawat berukuran besar dapat mendarat.
Ia mengatakan, moda transportasi laut dan udara akan memperlancarkan arus barang, uang dan orang ke berbagai pulau sehingga perniagaan tumbuh serta kesejahteraan rakyat meningkat.
Itu sebabnya dia tidak sungkan secara langsung meminta kepada Menteri Perhubungan bahkan juga kepada Presiden saat berkunjung ke Batam pada bulan lalu, agar dapat menambahkan kapal baru karena kapal pelayaran perintis yang ada saat ini sangat tidak layak untuk mengangkut penumpang.
Terkesan kumuh dan tidak terawat serta dikhawatirkan tidak sanggup menghadapi ombak besar.
Sedangkan untuk memperlancar transportasi ke daerah terpencil pihaknya juga merencanakan membangun lapangan terbang di pulau terdepan yakni di Tambelan Kabupaten Bintan, dan di Jemaja Kabupaten Kepulauan Anambas.
Potensi Wilayah
Keberadaan lapangan terbang akan mempermudah transportasi udara ke daerah yang tidak hanya terkenal sebagai laman depan Indonesia tetapi juga untuk mengangkat potensi pariwisata wilayah tersebut.
Ia mengemukakan, wilayah Kepulauan Riau meliputi 2.408 pulau, termasuk 19 pulau terdepan yang empat di antaranya telah dijadikan sebagai wilayah administratif kecamatan.
Pihaknya juga telah membentuk Badan Pengelola Daerah Perbatasan yang bertugas memetakan kebutuhan pulau terdepan berikut infrastrukturnya.
"Sudah saatnya prioritas diberikan untuk pulau-pulau terdepan karena terpencil," ungkap Gubernur Sani seraya menambahkan di masing-masing pulau terdepan ada mercusuar dan petugas navigasi.
Ia menyatakan sejauh ini keberadaan pulau-pulau terdepan Kepulauan Riau itu tidak diklaim negeri tetangga.
Ia juga mengungkapkan bahwa pihaknya sudah merancang pembangunan pelabuhan perikanan besar di Anambas dan Natuna, yaitu pelabuhan minapolitan.
Pelabuhan itu lengkap dengan cold storage, tempat pelelangan ikan, bunker BBM dan lainnya. Termasuk pabrik pengolahan hasil perikanan.
Menurut dia, kelak pelabuhan perikanan terpadu itu merupakan sentra pelabuhan perikanan besar di Indonesia barat.
Saat ini pembangunan pelabuhan tersebut sedang dirancang dengan harapan kelak membawa dampak perubahan pada masyarakat di sekitarnya.
"Kapal dari Vietnam atau Thailand tidak hanya menangkap ikan di kawasan ini tapi mereka juga akan membangun pabrik pengolahan ikan di sini. Dengan adanya pabrik ini tentu menyerap tenaga kerja lokal," katanya.
Negara-negara tetangga yang memiliki izin menangkap ikan di perairan Kepulauan Riau tidak boleh membawa hasil tangkapannya ke negaranya. Ikan-ikan itu harus dilelang atau diolah di tempat penangkapan. Sehingga dari hulu ke hilir Kepri mendapatkan manfaatnya.
"Sekarang, hulu tak dapat, hilir pun tak dapat. Lenyap begitu aja," katanya.
Konsep NAL tak hanya terbatas pada transportasi laut dan perikanan yang saling terhubung tapi juga pariwisata. Pihaknya saat ini sedang mengembangkan Pulau Bawah di Kabupaten Anambas.
Pulau Bawah merupakan pulau tropis terbaik di dunia, dengan pantai berpasir putih sepanjang 7 kilometer dan kawasan pulau tersebut merupakan kawasan konservasi laut. Telah ada investor yang berminat mengembangkan Pulau Bawah dengan investasi mencapai 2 juta dolar Amerika.
"Tidak mungkin daerah berkembang jika masih terisolasi. Itu sebabnya sangat digesakan connectify transportasi dalam merangkai pulau ," katanya. (E010/Z003)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
