Prevalensi stunting di Batam sebesar 1,26 persen pada triwulan II 2025

id kepri batam,dinkes,stunting,balita,prevalensi stunting

Prevalensi stunting di Batam sebesar 1,26 persen pada triwulan II 2025

Puskesmas Belakangpadang Dinkes Batam, Kepri. ANTARA/Amandine Nadja

Batam (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Kepulauan Riau, mencatat prevalensi stunting atau persentase balita stunting pada triwulan II tahun 2025 pada angka 1,26 persen, lebih rendah dari angka nasional yakni 19,8 pada 2024.

Data ini diperoleh dari hasil pengukuran 56.546 balita usia 0-59 bulan pada periode Juni 2025.

Kepala Dinkes Batam Didi Kusmarjadi menjelaskan dari jumlah tersebut terdapat 207 balita dengan kategori sangat pendek, 506 balita kategori pendek, 55.275 balita dengan tinggi badan normal, serta 451 balita dengan tinggi badan di atas rata-rata.

“Total balita yang terindikasi stunting sebanyak 713 anak atau 1,26 persen,” katanya saat dihubungi di Batam, Kamis.

Baca juga: Pemkab Natuna siapkan 2 tenaga kesehatan untuk Sekolah Rakyat

Angka ini menunjukkan perbaikan bila dibandingkan dengan hasil pengukuran triwulan I, yang mencatat 862 anak stunting.

Tren penurunan ini senada dengan target nasional yang menargetkan prevalensi turun menjadi 18,8 persen pada 2025 dan mencapai 5 persen pada 2029.

Didi menyebut pengukuran dilakukan rutin di pos pelayanan terpadu (posyandu) aktif di Kota Batam, yang jumlahnya ada 570 titik.

“Pemerintah pusat menargetkan 80 persen dari total balita bisa dijangkau dalam program ini. Kami terus mendorong partisipasi orang tua agar membawa anaknya ke posyandu,” ujarnya.

Selain pendataan di posyandu, Dinkes Batam juga memiliki peran kuat untuk menekan risiko stunting pada calon pengantin dengan mewajibkan pengecekan kesehatan fisik di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas).

Baca juga: UMKM Batam rasakan manfaat jadi binaan Bank Indonesia Kepri, bisa tembus pasar global

“Kami juga mewajibkan pemeriksaan kesehatan di puskesmas sebagai salah satu syarat pernikahan. Lengkap dengan edukasi masyarakat saat bimbingan perkawinan di KUA (kantor urusan agama),” katanya.

Sejak 2021, Batam mencatat penurunan signifikan pada prevalensi stunting. Pada tahun tersebut, angka stunting sebesar 16,1 persen, lebih rendah dari rata-rata nasional 24,4 persen.

Tahun 2022 turun menjadi 15,2 persen, lebih baik dibandingkan angka Provinsi Kepulauan Riau yang mencapai 15,5 persen.

Pada 2023 angka stunting turun hingga 2,35 persen, dan pada 2024 kembali turun menjadi 1,23 persen.

Baca juga:
TNI AU Natuna pemeriksaan kesehatan gratis sambut HUT Ke-80 TNI

Respon keluhan masyarakat Baloi, Deputi BP Batam instruksikan tim teknis cek tekanan air

Pewarta :
Editor: Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026


Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Komentar

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE