
Pers Diminta Berperan Jaga Persatuan Jelang Pemilu

Tanjungpinang (ANTARA Kepri) - Komunitas Bakti Bangsa Provinsi Kepulauan Riau meminta kalangan pers ikut berperan dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa menjelang Pemilu 2014.
"Peran ini baru bisa diwujudkan apabila para jurnalis bisa independen dan profesional dalam melakukan pemberitaan politik menjelang pemilu," kata aktivis Komunitas Bakti Bangsa Mimi Sutri, yang juga Ketua Panitia Seminar Hari Pers Nasional yang bertema "Peran Pers dalam Menjaga Persatuan Bangsa Menjelang Pemilu 2014", di Tanjungpinang, Rabu.
Seminar itu digelar Komunitas Bakti Bangsa Provinsi Kepulauan Riau bekerja sama dengan Perum LKBN ANTARA dengan tujuan membangun pers Indonesia yang profesional dan independen, terutama untuk menjaga persatuan bangsa menjelang Pemilu 2014.
Hadir sebagai pembicara dalam seminar tersebut Ketua KPU Kepri Den Yealta, Kepala Kantor Kesbangpolinmas Kepri Dr Syafri Salisman dan jurnalis LKBN ANTARA Jo Seng Bie.
"Kami berharap seminar ini dapat membangun persepsi yang sama antara pers, pemerintah, mahasiswa, dan lembaga penyelenggara pemilu untuk bersama-sama menjaga persatuan bangsa menjelang pesta demokrasi 2014," ujar Mimi Sutri.
Di hadapan sekitar 300 orang mahasiswa, wartawan, tokoh masyarakat, pengurus partai, dan staf pemerintahan, Ketua KPU Kepri Den Yealta memaparkan bahwa peran jurnalis yang independen dan profesional sangat diharapkan untuk mewujudkan Pemilu 2014 yang jujur, adil, dan transparan.
"Pers tidak boleh larut dan emosional dalam pemberitaan, sehingga tidak berimbang. Pers juga harus tahan dari tekanan pasar untuk menghindari berita-berita yang bersifat sensasi. Pers harus independen," kata Den Yealta.
Pers juga memiliki peran yang banyak dalam penyelenggaraan pemilu, di antaranya adalah menyosialisasikan tahapan pemilu.
"Kami terkadang malu karena pers lebih aktif mencari informasi terkait perkembangan pesta demokrasi," kata Den.
Meski demikian, terkadang pers juga melakukan kesalahan persepsi dalam melakukan pemberitaan. Akibat kesalahan pemberitaan, beberapa pihak merasa dirugikan.
"Kami pernah mengalami sendiri bahwa akibat kesalahan persepsi dalam pemberitaan tersebut, maka KPU Kepri waktu itu berbenturan dengan tiga institusi," ungkap Den.
Sementara itu, Syafri Salisman melihat bahwa saat ini pers berperan besar untuk mempersatukan Indonesia. Namun, fenomena yang berkembang, pers sudah menjadi industri sehingga harus dapat memisahkan antara kepentingan perusahaan dan bangsa.
"Mengapa demikian? Karena kekuatan ekonomi di tangan mereka, masing-masing media massa ingin mencari pemasukan lebih tinggi agar penerimaan lebih tinggi. Maka semua berita dimasukkan, tanpa memikirkan efeknya terhadap kondisi negara," kata Syafri.
Mantan wartawan itu menyatakan bahwa masih banyak jurnalis yang profesional. Dalam melakukan pemberitaan, mereka lebih menekankan kepada kepentingan masyarakat, bukan industri media itu sendiri.
"Jadi ini sangat tergantung niatnya di awal, sebelum memberitakan," ujarnya.
Sementara itu, Jo Seng Bie mengatakan pers memiliki peran yang besar dalam membangun negara. Sejarah membuktikan jurnalis memiliki jasa dalam menyatukan bangsa dan ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
"Beberapa jurnalis LKBN ANTARA melalui tulisannya ikut berjuang untuk kemerdekaan Indonesia," katanya.
Ia mengatakan meski banyak mendapat kritik, pers terus berperan dalam melakukan kontrol terhadap pemerintah.
"Meski sudah dikontrol secara ketat, tetap saja ada korupsi di pemerintahan. Hal ini terbukti dengan ditangkapnya sejumlah oknum pejabat dan anggota dewan dalam kasus korupsi," ujarnya.
Pada sesi tanya jawab, ada peserta yang mempersoalkan tentang pers yang banyak membuka aib seseorang ke masyarakat. Terkait hal ini, Den Yealta mengatakan bahwa sesungguhnya semua ini juga tergantung dari masyarakatnya.
"Tayangan gosip di televisi memiliki rating yang tinggi, sehingga terus menerus ditayangkan. Hal ini berarti juga masyarakat kita banyak yang menyenangi membicarakan aib orang lain," kata Den Yealta. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
