Logo Header Antaranews Kepri

Longsoran tanah di Aceh Tengah membesar sejak 2000-an

Kamis, 15 Januari 2026 13:54 WIB
Image Print
Foto udara suasana perkebunan milik warga yang amblas di jalan lintas Kecamatan Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, Aceh, Selasa (14/1/2026). ANTARA FOTO/Abiyyu

Banda Aceh (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah menyatakan fenomena pergerakan longsoran tanah di wilayah Kampung (desa) Bah Kecamatan Ketol kabupaten setempat terus membesar sejak diketahui pertama kali sekitar tahun 2000-an.

"Beberapa sumber menjelaskan bahwa lubang kecil sudah mulai terbentuk sejak awal tahun 2000-an. Dimana pergerakan tanah terus terjadi secara bertahap sejak 2004," kata Kepala BPBD Aceh Tengah, Andalika yang dikonfirmasi dari Banda Aceh, Kamis.

Tetapi, kata dia, setelah terjadi pergerakan awal sejak 2000-an sampai 2004, dan berdasarkan laporan dari masyarakat, sekitar 2006 longsoran tersebut sudah pernah memutus akses jalan Blang Mancung-Simpang Balik (penghubung Kabupaten Aceh Tengah - Bener Meriah).

Bahkan, pernah terjadi relokasi tempat tinggal masyarakat di Kampung Bah Serempah ke Kampung Serempah Baru pada tahun 2013-2014. "Rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan sebanyak tiga tahapan di periode tahun tersebut," ujarnya.

Andalika menjelaskan, sebelumnya pernah dilakukan kajian tentang longsoran tanah tersebut, dan berdasarkan data dari Dinas ESDM Aceh, pergerakan tanah terus meningkat secara bertahap setiap tahunnya.

Baca juga: BMKG sebut Gempa di Bener Meriah akibat aktivitas Sesar Sumatera

Sejak 2011, sudah dimulai pengukuran pertambahan luasan skala longsoran tanah oleh ESDM Aceh. Data terbaru mereka, pada 2025 luasan longsoran tanah mencapai lebih dari 27 ribu meter luas dan semakin mendekati jalan lintas di sana.

Lalu, pada 2022, tim geologi dan survei geofisika ESDM Aceh pernah melakukan kolaborasi kajian longsoran tanah tersebut di sana bersama BPBD Aceh Tengah.

Hasil kajiannya, longsoran tanah di Kampung Bah ini berada pada lapisan tanah permukaan dengan zona jenuh air dan didominasi oleh material vulkanik yang mudah menghantarkan air.

Andalika menuturkan, setelah adanya berbagai kajian itu, longsoran tanah di Kampung Bah saat ini bukan jenis amblesan tanah sinkhole klasik yang terbentuk karena adanya lubang runtuh secara tiba-tiba.

"Melainkan pergerakan material tanah yang terjadi secara perlahan (slow moving landslide)," ujarnya.

Kemudian, lanjut dia, diketahui bahwa penyebab terjadinya longsoran tanah itu dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya struktur tanah yang tidak stabil karena tersusun dari material hasil letusan gunung api yang mudah tererosi, bersifat mudah jenuh air dan mudah bergerak, tidak termampatkan dan berumur muda (kuarter).

Lereng dan kemiringan tanah yang curam membuatnya sangat mudah tererosi. Visualisasi longsoran tanah di di sana memperlihatkan bidang gelincirnya sangat curam mendekati sudut 90 derajat.

Tak hanya itu, kata dia, beban dinamis dan statis di sekitarnya mempercepat kerusakan. Apalagi, lalu lintas utama di sana (Blang-Mancung Simpang Balik) merupakan jalan vital yang banyak dilalui kendaraan, Beban secara terus menerus memberikan tekanan pada tanahnya yang tidak stabil.

Sehingga, tanah terus bergerak dan menjadi semakin cepat melemah. Beban lainnya yang memicu penekanan pada tanah seperti power sutet yang berada di sekitar lokasi dan aktivitas warga di perkebunan.





Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: BPBD: Fenomena longsoran tanah di Aceh Tengah membesar sejak 2000-an



Pewarta :
Editor: Nadilla
COPYRIGHT © ANTARA 2026