Logo Header Antaranews Kepri

Kurangnya PLKB Akibatkan Program KB Stagnan

Selasa, 30 April 2013 01:39 WIB
Image Print

Batam (Antara Kepri) - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menilai kurangnya petugas lapangan keluarga berencana (PLKB) mengakibatkan program KB selama 10 tahun terakhir stagnan.

"Survei kependudukan pada 2007 menunjukkan total fertility rate (TFR/angka rata-rata kelahiran diusia subur) 2,6 persen, angka itu masih bertahan hingga 2012. Padahal seharusnya pada 2014 mendatang harus 2,1 persen. Salah satunya karena kurangnya PLKB sebagai ujung tombak kesuksesan KB," kata Plt Sekretaris Utama BKKBN Pusat, Hardiyanto di Batam, Senin.

Ia mengatakan, keberadaan PLKB sebenarnya sangat dibutuhkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya menggunakan kontrasepsi terutama untuk jangka panjang (MKJB).

"Hingga saat ini peserta KB yang menggunakan alat kontrasepsi jangka pendek seperti suntik, pil dan kondom masih 57,9 persen. Kontinuitas penggunaan kontrasepsi mereka sangat rentan sehingga tidak berdampak signifikan pada angka peningkatan peserta KB aktif," kata dia.

Pada 2007, kata dia, peserta KB aktif mencapai 57,5 persen. Namun hingga 2012 hanya mengalami kenaikan 0,4 persen menjadi 57,9 persen. Padahal seharunsnya mencapai diatas 60 persen.

"Rapor BKKBN pada akhir 2012 memang masih banyak yang merah karena target-target utama tersebut tidak terpenuhi. Kalau PLKB banyak tentu angkanya akan lebih bagus bahkan bisa mencapai target," kata Hardiyanto.

Ia mengatakan, target yang tercapai dari program KB ialah meningkatnya pengetahuan pasangan usia subur di Indonesia yang sudah di atas 90 persen.

"Kalau dibilang gagal sebenarnya tidak juga, karena ada indikasi yang menunjukkan target BKKBN tercapai," kata dia.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nafisah Mboi dalam kunjungan kerja di Batam awal April 2013 menilai program Keluarga Berencana telah gagal, karena angka fertilitas di Indonesia tidak menurun seperti yang diharapkan.

"Pada sekitar 2012 angka fertilitas di Indonesia sebesar 2,6 dan angka tersebut masih bertahan hingga saat ini. Artinya program KB dalam 10 tahun terakhir gagal," kata Menkes setelah membuka Rapat Kerja Kesehatan Daerah Provinsi Kepulauan Riau 2013 di Batam, Selasa.

Ia mengatakan, seharusnya pada 2014 angka fertilitas di Indonesia 2,1 sesuai dengan target MDG`s.

"Trennya saat ini usia pernikahan malah cenderung turun. Makin banyak remaja di bawah 20 tahun yang sudah melakukan seks dan pernikahan akibat pergaulan bebas," ujarnya. (Antara)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026