Logo Header Antaranews Kepri

Siswa SD di bunuh diri soal buku Rp10 ribu, DPR: Alarm keras bagi perlindungan anak

Rabu, 4 Februari 2026 08:58 WIB
Image Print
Anggota Komisi VIII DPR RI Ina Ammania. ANTARA/HO-Humas DPR RI

Jakarta (ANTARA) - Kasus bunuh diri seorang siswa kelas IV SD berinisial YBS (10) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang dipicu ketidakmampuan membeli buku seharga Rp10.000, dinilai menjadi alarm keras bagi perlindungan anak di Indonesia.

Anggota Komisi VIII DPR RI Ina Ammania mengatakan kasus bunuh diri siswa SD berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, NTT harus menjadi alarm serius bagi negara dalam menjamin perlindungan dan pemenuhan hak pendidikan anak.

“Ini harus menjadi alarm serius bagi negara. Contoh potret yang buruk bagi dunia pendidikan, termasuk hak-haknya,” katanya dikutip di Jakarta, Rabu.

Legislator berasal dari Daerah Pemilihan Jawa Timur III yang meliputi Banyuwangi, Bondowoso, dan Situbondo itu, menilai peristiwa tersebut seharusnya tidak terjadi apabila negara hadir memberikan perlindungan kepada anak, terutama berasal dari keluarga tidak mampu.

Ia mengingatkan bahwa negara telah mengalokasikan anggaran pendidikan dalam jumlah besar, termasuk menyediakan berbagai bantuan sosial bagi masyarakat miskin melalui sejumlah kementerian. Dengan demikian, kasus seperti itu seharusnya tidak terjadi.

Ina juga menyoroti peran Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dalam memastikan perlindungan terhadap anak-anak rentan, khususnya di daerah.

Menurut dia, evaluasi perlu dilakukan mengingat sebelumnya juga terjadi sejumlah kasus kekerasan terhadap anak di wilayah Ngada.

Ia menekankan pentingnya penelusuran akar persoalan secara menyeluruh, termasuk kondisi ekonomi keluarga dan lingkungan sosial, agar peristiwa serupa tidak terulang.

“Di sinilah peran Kementerian PPPA dituntut, bagaimana melakukan perlindungan anak sejak dini, baik dari lingkungan keluarga maupun masyarakat,” kata dia.

Sementara itu, Seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya, inisial MGT (usia 47 tahun).

Dalam surat itu, sebagaimana telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, korban menuliskan:

"Surat buat Mama
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi
Jangan menangis ya Mama
Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya
Selamat tinggal Mama".

Korban tersebut diketahui tinggal bersama neneknya, karena ibundanya, yang merupakan orangtua tunggal, bekerja sebagai petani dan kerja serabutan. Ibunda korban mengurusi lima orang anak, termasuk korban yang telah meninggal dunia.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: DPR nilai insiden siswa di NTT jadi alarm serius pemenuhan hak anak



Pewarta :
Editor: Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026